Maya Diana K Dewi: Seni Mengatur Waktu

- Minggu, 27 Maret 2022 | 19:21 WIB
Maya Diana K Dewi, Founder Komunitas Diajeng Semarang (KDS) (sm/dok)
Maya Diana K Dewi, Founder Komunitas Diajeng Semarang (KDS) (sm/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Tampil energik dan menarik. Itulah kesan yang tampak dari Maya Diana K Dewi, Founder Komunitas Diajeng Semarang (KDS).

Di tengah kesibukannya sehari-hari, wanita kelahiran Batang, 22 Agustus 1975 itu, masih bisa menyempatkan diri untuk berkegiatan budaya bersama KDS, komunitas yang dibidaninya sejak 2016.

"Saya punya cara sendiri bagaimana mengatur waktu antara keluarga, kerja, dan berkomunitas, agar saya bisa menjalani semuanya secara proposional dan dengan bahagia," kata dia, di rumahnya Jl Aster 1 No 17 Bukit Wahid Regency, Semarang.

Baca Juga: Pratama Arhan dan Tokyo Verdy Akan Hadir di SNC 2022

Jeng Maya, sapaan akrabnya, mengatakan di tengah kesibukannya menekuni bisnis Cenayu Omah Lulur, Cenayu Minuman Tradisional, dan Cenayu Batik, dirinya masih menyempatkan membagi waktu untuk mengurusi KDS. Bahkan nama komunitas pecinta kebaya itulah yang justru paling melekat pada dirinya.

"Latar belakang saya sebenarnya pendidikan. Saya dulu sempat mengajar di beberapa lembaga pendidikan. Hingga saat ini, yang masih sesekali saya lakukan adalah mengisi pelatihan atau coaching preparasi tes kompetensi bahasa seperti TOEFL dan sejenisnya," kata Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Unnes tahun 1999 tersebut.

Meski demikian, Maya mengaku semuanya dijalani dengan riang. Seakan tanpa beban di pundaknya. "Ini selaras dengan motto hidup saya, yaitu hidup itu indah. Saya berupaya untuk sebisa mungkin punya cara bagaimana menjalani semua dengan bertanggung jawab dan gembira," katanya.

Menurut dia, meskipun aktif di komunitas, bahkan sebagai founder, bukan berarti seluruh waktunya hanya untuk komunitas.

"Saya harus jujur dong. Saya butuh makan, juga butuh bersama keluarga. Jadi tidak mentang-mentang aktivis komunitas, apalagi seorang founder, berarti 24 jam saya di situ. Tidak seperti itu. Tapi saya punya seni dalam membagi perhatian. Dan, indikatornya adalah rasa bahagia," kata dia.

Indikatornya Bahagia

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Virtual Skating, Galang Dana Bantu Difabel

Selasa, 14 Juni 2022 | 20:58 WIB
X