Komunitas Diajeng Semarang Nonton Bioskop Berkebaya, Film Losmen Bu Broto Jadi Inspirasi

- Kamis, 25 November 2021 | 19:04 WIB
Anggota Komunitas Diajeng Semarang mengenakan kebaya saat nonton bareng film ''Losmen Bu Broto'' di gedung bioskop XXI DP Mall.  (suaramerdeka.com/Aristya Kusuma Verdana)
Anggota Komunitas Diajeng Semarang mengenakan kebaya saat nonton bareng film ''Losmen Bu Broto'' di gedung bioskop XXI DP Mall. (suaramerdeka.com/Aristya Kusuma Verdana)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Film berjudul "Losmen Bu Broto" menjadi inspirasi keteladanan bagi Komunitas Diajeng Semarang (KDS).

Sebanyak 10 anggota Diajeng Semarang melakukan nonton bareng di gedung bioskop XXI DP Mall, kemarin. Saat menonton, mereka mengenakan kebaya.

"Film tersebut berlatar belakang budaya. Sarat akan simbol adat, seperti wanita mengenakan kebaya dan pria mengenakan surjan. Baju ada Nusantara yang selama ini menjadi dasar gerakan KDS. Kami adalah komunitas pelestari busana Nusantara, khususnya jarik dan kebaya," kata Founder KDS, Maya Diana Kusuma Dewi.

Baca Juga: Pemprov Jateng Berikan Penghargaan 14 Wilayah Berdaya Saing Tinggi

Maya menjelaskan, anggota yang ikut antara lain, Jeng Maya, Jeng Nana, Jeng Nia, Jeng Niar, Jeng Luluk, Jeng Evi, Jeng Sani, Jeng Dian, Jeng Hesti, dan Jeng Aara.

Konsep film yang mengenakan busana adat Jawa itu menggerakkan KDS untuk mengapresiasi film dengan mengenakan kebaya saat menontonnya.

"Kami melihat benang merah yang sangat kuat antara film tersebut dengan nilai yang kami usung selama ini yakni pelestarian busana adat Nusantara," ucapnya.

Film ini berjenis drama yang diproduksi oleh Ideosource Entertainment, Paragon Pictures, Fourcolours Films, dan Ideoworks. Diadaptasi dari serial yang tayang di TVRI berjudul Losmen pada 1980-an.

Baca Juga: Adu Jotos TNI vs Polisi di Ambon Viral di Medsos, Berawal dari Kesalahpahaman

Menceritakan tentang kehidupan sehari-hari keluarga Broto yang mengelola sebuah losmen. Diciptakan, ditulis dan disutradarai pasangan Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing.

Saat ini film disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono serta diproduseri oleh Andi Boediman.

Dibintangi oleh Mathias Muchus sebagai Pak Broto dan Maudy Koesnaedi sebagai Bu Broto. Selain itu pemeran lainnya adalah Maudy Ayunda, Putri Marino, Baskara Mahendra, Danilla Riyadi, dan Marthino Lio.

"Menonton film tersebut menjawab kerinduan kami. Karena, kebanyakan anggota KDS adalah angkatan 1980/1990-an. Saat itu serialnya sangat diminiati, termasuk kami."

Baca Juga: Tiga Pebulutangkis Indonesia Masuk Nominasi BWF 2020/2021

Para anggota KDS merasa sangat dekat dengan para tokoh di dalamnya. Mereka adalah Pak Broto dan Bu Broto serta ketiga anaknya yakni, Pur, Sri, dan Parjo.

"Seolah berbicara tentang losmen. Tetapi di dalamnya sebenarnya tentang keluarga. Bahwa, keluarga adalah segalanya," ujarnya.

Konfliknya, kata dia, sangat dekat dengan keseharian masyarakat Jawa. Hubungan antara orang tua dan anak adalah rasa menghormati.

"Nilai keluarga yang kami petik salah satunya dari Mbak Pur. Dia didiik oleh adat Jawa yang sangat kuat. Orang tua sangat dihormati, dan anak sangat penurut," tuturnya.

Baca Juga: Peringatan Hari Guru Nasional: Salut! Ini 5 Kisah Hebat Perjuangan Para Guru di Indonesia

Kemudian, ketika adegan permintaan maaf oleh Mbak Sri kepada orang tuanya. Dia berlutut untuk meminta maaf.

"Ini yang saat ini jarang. Meminta maaf kepada orang tua. Tidak hanya lewat perkataan, tetapi juga dengan bahasa tubuh," ungkapnya.

Cerita di dalam film, sangat banyak pelajaran yang bisa diambil. Salah satunya adalah tentang keluarga y ang merupakan rumah.

"Itu pesan moralnya. Keluarga adalah rumah. Segala sesuatu dimulai dari keluarga. Semua masalah dihadapi dengan dukungan seluruh anggota keluarga," pungkasnya.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cuaca Ekstrem, Berbagai Penyakit Ancam Hewan Rumahan

Jumat, 12 November 2021 | 07:30 WIB
X