Pekan Peduli Antimikroba Sedunia; Cegah Resistensi, Antibiotik Tak Boleh Dikonsumsi Sembarangan

- Minggu, 21 November 2021 | 22:02 WIB
peserta dari PINTAR mengkampanyekan bahaya resistensi antimikroba akibat konsumsi antibiotik yang berlebihan, di depan kantor BI di Jalan Imam Bardjo, Pleburan, Minggu (21/11). (SM/Muhammad Arif Prayoga)
peserta dari PINTAR mengkampanyekan bahaya resistensi antimikroba akibat konsumsi antibiotik yang berlebihan, di depan kantor BI di Jalan Imam Bardjo, Pleburan, Minggu (21/11). (SM/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance (PINTAR) mengkampanyekan gerakan antisipasi bahaya resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR), akibat penggunaan antibiotik yang cepat dan tidak terkontrol.

Kampanye tersebut diselenggarakan sebagai bentuk dukungan PINTAR, dalam memperingati pekan pedul antimikroba sedunia setiap 18-24 November.

Peserta kampanye berasal dari pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Semarang dan apoteker yang bekerja di apotek komunitas Kota Semarang.

Baca Juga: Berikut Lafadz Ayat Kursi, Bahasa Arab - Latin dan Terjemahannya

Ketua PC IAI Kota Semarang, I Kadek Bagiana MSc Apt, mengatakan bahwa bahaya dari resistensi antimikroba yaitu saat seseorang menderita infeksi maka akan sangat sulit untuk disembuhkan.

Hal tersebut karena semua jenis antibiotik sudah tidak manjur lagi untuk menangkal mikroba virus. Dirinya mencontohkan kasus resistensi antimikroba banyak ditemukan pada pasien Tuberkulosis (TB) Paru.

''Ada yang multi antibiotik resisten dan ada pula yang sudah semua antibiotik resisten. Kalau pasien penyakit TB Paru mengalami infeksi seperti itu maka beban pembiayaannya akan tinggi sekali, karena waktu penyembuhan akan lama.

Untuk itu, kami ingin menekankan pada masyarakat agar sebaiknya bijak menggunakan antibiotik,'' ujar dia, di sela-sela kampanye bahaya resistensi antimikroba di depan kantor BI di Jalan Imam Bardjo, Pleburan, Minggu (21/11).

Baca Juga: HUT ke-76 PGRI dan HGN 2021. PGRI Terus Termotivasi Bangkitkan Kompetensi Guru

I Kadek menegaskan, penggunaan antibiotik hendaknya digunakan sesuai kebutuhan atau indikasi. Hal itu karena tidak semua penyakit memerlukan antibiotik. Ini sekaligus untuk meluruskan pola pikir yang salah pada masyarakat umum, yang selalu beranggapan jika ada sakit nyeri maka perlu antibiotik.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X