Perajin Anyaman Bambu, Pandemi Covid-19 dan Kearifan Lokal

Biro Muria
- Kamis, 29 Oktober 2020 | 12:44 WIB

INDUSTRI rumahan kerajinan anyaman bambu di Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Blora sudah ada jauh sebelum pandemi virus korona (Covid-19) melanda. Industri inipun telah menjadi kearifan lokal masyarakat desa karena diwariskan turun temurun. Bagaimana industri ini menyikapi Covid-19 ? Berikut ini ceritanya.

Jari jemari Dami terlihat begitu lihai merangkai anyaman bambu. Matanya yang sudah rabun karena termakan usia tak menghalanginya untuk terus berkarya. Sembari duduk di kursi panjang di teras rumah, perempuan 69 tahun tersebut menikmati hari-harinya membuat dunak (bakul besar terbuat dari anyaman bambu). ‘’Sejak masih perawan (remaja, red) saya sudah bisa membuat dunak. Sampai sekarang juga masih,’’ ujarnya mengawali pembicaraan.
Dami mengaku keterampilan mengayam bambu dipelajarinya dari nenek buyutnya. Sama seperti dia, orang tuanya dulunya juga perajin anyaman bambu. ‘’Sudah turun temurun seperti ini,’’ ungkapnya.

Hanya, kata dia, menganyam bambu menjadi kerajinan bernilai ekonomi, bukan pekerjaan utama. Bercocok tanam di sawah dipilih menjadi profesi sehari-hari. Berkarya mengayam bambu baru dikerjakan sepulang dari sawah atau ketika ada waktu luang. ‘’Kami ini kan orang desa. Jadi ya tetap bertani. Mengayam bambu pekerjaan sambilan saja,’’ begitu dia beralasan.

Tak hanya Dami. Mengayam bambu juga dilakukan Surati. Bedanya, Surati berusia lebih muda, 55 tahun. Sama seperti Dami, mengayam bambu juga dilakukan Surati saat waktu luang usai bekerja di ladang. ‘’Sebagain besar warga di Desa Sumurboto ini bisa menganyam bambu. Kalau ada pesanan, mereka siap menyelesaikannya,’’ tegasnya.
Kerajinan anyaman bambu seperti tempat nasi, dunak, tampah, irig dan anting  dan lain sebagainya, menurut Surati, sebagian di antaranya dikerjakan berdasarkan pesanan. Namun, tidak sedikit pula para perajin yang sengaja membuatnya untuk stok sebagai antisipasi jika ada warga yang datang ke desa untuk membeli. Begitu pula saat pandemi Covid-19 melanda. Menurutnya, sebagian besar perajin anyaman bambu di desanya tetap berkarya untuk mendapatkan penghasilan sehari-hari. Hanya, dia mengakui jumlah pesanan maupun omzet mengalami penurunan dibanding hari biasanya. ‘’Ada penurunan tapi tidak banyak. Tetap ada yang pesan untuk hajatan ataupun rumah makan,’’ ungkapnya.

Pernyataan senada dikemukan pula Dami. Dia mengungkapkan, karena pesanan dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan acara, dirinya pun bisa lebih longgar menyelesaian pembuatan anyaman bambu. ‘’Saat pandemi Covid-19 saya tetap membuat anyaman bambu karena ada pesanan. Saya cicil setiap hari membuat dua buah bakul ukuran kecil untuk wadah nasi. Ini pun sudah pesanan untuk acara hajatan warga,’’  kata Dami.

Sementara itu perajin lainnya Syakur (45) menuturkan, kerajinan anyaman bambu di desanya sempat pula mengalami pasang surut. Seperti saat krisis moneter (krismon) di tahun 1998 maupun ketika awal pandemi Covid-19 pada Maret-April 2020. ‘’Biasanya butuh penyesuaian satu hingga dua bulan. Setelah itu berangsur normal lagi,’’ ungkapnya.

Dia mengakui kehadiran barang-barang berbahan plastik maupun lainya yang diproduksi pabrik menjadikan kerajinan anyaman bambu kalah bersaing. Namun, dia mengungkapkan, sejak lima tahun terakhir produk anyaman bambu kembali banyak peminat. Hal itu seiring banyaknya warga yang ingin kembali menggunakan produk-produk alam. ‘’Meski tidak banyak, tapi masih laku dan dicari pembeli,” ucapnya.

Harga yang ditawarkan pun tergolong murah, tergantung besar kecilnya ukuran. Mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 10.000 per buah. Syakur mengemukakan, seiring perkembangan waktu, beberapa perajin membuat aneka kreasi produk. Seperti wadah buah dengan berbagai variasi dan dunak dengan penyangga kayu. “Kalau yang sudah variasi, harganya berbeda. Biasanya memang dipesan khusus,’’ ungkapnya.

Kepala Desa Sumurboto Suprapti mengungkapkan, selama masa pendemi Covid-19, para perajin anyaman bambu diminta patuh protokol kesehatan. Menurutnya, pemerintah desa Sumurboto telah menyiapkan dan membagikan secara gratis tempat cuci tangan kepada semua warga. “Meskipun kerajinan dikerjakan di rumah, tetap kita antisipasi. Kami minta semua patuh protokol kesehatan,’’ ujarnya.

Halaman:

Editor: Biro Muria

Terkini

X