Mengelola Coffee Shop dan Restoran di Gunung untuk Kelas Menengah Atas

- Sabtu, 2 Oktober 2021 | 14:40 WIB
Seorang tengah menuangkan minuman di coffee shop dan restoran. (suaramerdeka.com/Prayitno)
Seorang tengah menuangkan minuman di coffee shop dan restoran. (suaramerdeka.com/Prayitno)

KUDUS, suaramerdeka.com - Sekretaris Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Supriyo, memiliki optimisme untuk memainkan spekulasi usaha pariwisata di desanya.

‘’Soal kepariwisataan saya nol besar,’’ tuturnya berulang-ulang pada suatu ketika.

Ketidaktahuannya, justru membimbingnya menjadi pendengar yang teliti.

Hingga akhirnya ‘’kompor’’ yang terus-menerus dikobarkan oleh Mutrikah(kini Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Kabupaten Kudus serta praktisi perkopian dan restauran Bimo Sekti Bagus Thohari (yang juga Kepala Seksi Drainase Dinas PUPR Kudus, diserap cukup baik oleh Supriyo.

Gayung pun bersambut.

Dia menyulap halaman rumah tempat tinggal, yang penuh dengan tanaman buah jeruk pamelo, alpukat, dan durian, menjadi coffee shop dan restoran.

Bimo dan Mutrikah pun intens memberi pendampingan dalam menentukan konsep bangunan maupun menu untuk konsumen kelas menengah atas.

Coffee shop dan restaoran berkonsep alam tersebut pun bagai menjadi bara masyarakat lebih serius dalam mengelola kampungnya sebagai desa wisata.

Tidak hanya menjadi bagian yang tidak bisa merasakan manfaat secara langsung atas keberadaan Makam Sunan Muria Raden Umar Said, yang hanya satu kilometer jauhnya dari Japan.

Kemunculan Jembangan Coffee Shop dan Restoran menjadi semacam penegas atas situs Rejenu di Japan.

Yang antara lain terdapat makam waliyullah Syezh Sadzali dan mata air Tiga Rasa, menyimpan potensi bisa dikembangkan menjadi lebih kuat daya tariknya.

Juga kebun kopi, jeruk pamelo, serta alpukat, maupun kawasan lain yang memiliki pemandangan aduhai.

‘’Saya justru akan lebih serius dan fokus mengelola kebun kopi, yang selama ini saya lakukan secara apa adanya,’’ kata Supriyo.

Kenekatannya menyerahkan pengelolaan usaha tersebut, tak bertepuk sebelah tangan.

Sebab, Baddal Setiaji (20), juga setali tiga uang.

Anak semata wayang itu pun juga nekad menerima tantangan.

‘’Meski saya lahir dan besar di Japan, dulu kalau ngopi saya tidak urusan harus begini, harus begitu. Kopi kemasan pabrikan pun oke saja, lha kok tiba-tiba diminta mengelola coffee shop dan restoran. Tidak hanya khusus sebagai barista,’’ ungkap Baddal.

Baddal yang semenjak lulus SMA bergabung dalam armada sepeda motor ojek bagi wisatawan yang hendak ziarah ke makam Syezh Sadzali di Rejenu, pun harus meninggalkan secara total dari dunia jasa ojek.

‘’Kalau tidak capai dan kangen pada teman-teman ojek, selepas tutup warung, saya tetap mengobrol di pangkalan ojek,’’ cetusnya.

Ia tak hanya menjadi manajer, semenjak Jembangan Coffee Shop dan Restoran dibuka pada Novemer 2020, namun juga sekaligus barista.

Hanya untuk menu restauran yang teknis penanganannya diserahkan kepada juru masak.

‘’Sudah ada bayangan untuk mengembangkan usaha wisata yang lain, tapi nanti dululah,’’ ujarnya.

Dalam tiga bulan pertama membuka usahanya, Baddal setiap hari didampingi tenaga terampil dalam penyeduhan kopi dari Java Legend Laboratorium & Educations Coffee, Pati, yang dimpinpin oleh Bimo Sekti.

‘’Lucu memang, setelah sekitar sepekan saya menangani coffee shop, juga baru berkesempatan mengikuti pelatihan barista yang diadakan oleh Java Legend Laboratorium & Educations Coffee,’’ kenangnya.

Baddal mengaku, masih butuh perhatian yang lebih serius, terutama dengan kecamuk wabah Covid-19 yang masih terus menjadi ancaman.

‘’Sementara saya cuti kuliah selama setahun,’’ ucap Baddal, mahasiswa semester 4 Jurusan Pertanian Universitas Muria Kudus itu.

Kini, remaja desa lereng Puncak Argo Jembangan di Pegunungan Muria itu, telah mahir mengolah pelbagai ramuan kopi.

Sudah tidak perlu lagi didampingi secara langsung oleh barista yang lebih mahir, cukup sesekali disupervisi Bimo Sekti yang mengantongi sertifikat Q Generalis Coffee.

‘’Kalau yang spesifik kopi ramuan kami, ya kopi robusta dimiks dengan arabica serta pisang, alpukat, dan sirup buah parijotho sebagai pemanisnya,’’ pungkasnya.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Terkini

Ini 5 Olahan Memasak Ikan yang Bisa Kamu Coba

Jumat, 26 November 2021 | 11:23 WIB

Mengenal Truffle, Jamur Termahal di Dunia

Rabu, 24 November 2021 | 23:43 WIB

Yuk, Bikin Kimbab Ala Drama Korea Murah Meriah

Rabu, 24 November 2021 | 22:59 WIB

Ini Fakta Edible Gold, Emas Murni yang Bisa Dimakan

Rabu, 24 November 2021 | 19:38 WIB

Ini Tips Memasak Telur yang Benar

Senin, 22 November 2021 | 07:43 WIB

Sushi Jenis Ini Populer di Indonesia, Kamu Wajib Tahu!

Kamis, 11 November 2021 | 21:04 WIB

Apa Sih Daging Wagyu Itu? Berikut Penjelasannya

Kamis, 11 November 2021 | 07:07 WIB

Begini Cara Membuat Menu Pancake Hanya dengan Teflon

Senin, 8 November 2021 | 08:41 WIB
X