Sapardi Djoko Damono Ikhlaskan Sajak dan Novelnya Jadi Film

- Rabu, 25 Oktober 2017 | 21:17 WIB
Velove Vexia dan Adipati Dolken pemeran utama film Hujan Bulan Juni. (suaramerdeka.com/dok)
Velove Vexia dan Adipati Dolken pemeran utama film Hujan Bulan Juni. (suaramerdeka.com/dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Penyair, novelis dan guru besar fakultas ilmu budaya Universitas Indonesia, Sapardi Djoko Damono, mengaku dengan besar hati mengiklaskan salah satu sajak sohornya berjudul Hujan Bulan Juni dialih wahanakan dalam bentuk skenario, sebelum kemudian difilmkan. Dalam preview perdana film Hujan Bulan Juni di Jakarta, Selasa (24/10), SDD (demikian ia biasa disapa) bercerita tentang sajak terkenalnya itu.

"Pada tahun 1989, sajak Hujan Bulan Juni dimuat di sebuah Koran, dan dalam waktu beberapa tahun sajak itu berubah ujudnya menjadi lagu, komik, dan buku mewarnai yang disusun oleh seniman lain," katanya.

Dia melanjutkan, pada tahun 2015 terbit novel Hujan Bulan Juni yang dia tulis sendiri, dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca. "Setahun kemudian novel itu mulai diproses menjadi film, dan setelah persiapan selesai pembuatan film pun dimulai. Film yang intinya adalah sajak tersebut merupakan hasil alih wahana, yakni pemindahan kisah dari satu jenis seni ke jenis lain dan dikerjakan oleh seniman-seniman film itu, sama sekali bebas dari campur tangan saya, sesuai dengan prinsip dasar alih wahana," terangnya. 

Demikianlah maka film produksi Starvision Plus ini, akhirnya sepenuhnya menjadi milik para seniman, yang dengan kreatif telah menghasilkan film tersebut. "Sebagai penulis puisi dan novel, saya tentu saja merasa bersyukur dan bangga, bahwa ada seniman bidang lain yang menurut pandangan saya telah membantu berlangsungnya proses tradisi kesenian, dan maknanya sangat penting bagi 
pemeliharaan kebudayaan suatu bangsa," katanya lagi.

Film yang akan mulai edar pada 2 November arahan Reni Nurcahyo Hestu Saputra itu, menang di angka dari novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Bernarasi tentang sosok Pingkan (Velove Vexia), dosen muda Sastra Jepang Universitas Indonesia, mendapat kesempatan belajar ke Jepang selama dua tahun. Sepeninggal Pingkan, Sarwono (Adipati Dolken) menjadi nelangsa. Kisah  tentang Pingkan dan Sarwono inilah yang dijual di film drama percintaan ini.

Titien Wattimena, penulis skenario film ini bercerita. Pada awalnya dia gentar dengan nama besar SDD. Takut hasil interpretasinya melukai versi sajak dan novelnya. "Namun kemudian saya bertemu langsung dengan beliau. Dan beliau mengizinkan saya mengalih wahanakan novelnya ke dalam skenario. Keterikatan beliau dengan novel, dengan Pingkan dan Sarwono, tak memenjarakan saya. Dia mengizinkan saya membangun hubungan baru dengan Pingkan dan Sarwono, bersahabat, mengobrol dengan mereka, tanpa harus takut dicemburui oleh beliau," katanya, sembari menyatakan rasa hormat dan terima kasihnya, buku karya Sapardi yang berjudul ”Alih Wahana” diberikan langsung kepadanya.

Di buku itu dinukilkan, jika skenario adalah titik pertemuan sekaligus titik perpisahan antara sastra dan film.

Editor: Nugroho

Terkini

X