Miracle in Cell No 7, Ingin Beda Tetapi dalam Satu Koridor

- Jumat, 15 Mei 2020 | 11:00 WIB
Film The Miracle in Cell No 7. (istimewa)
Film The Miracle in Cell No 7. (istimewa)

SUTRADARA Hanung Bramantyo yang bertindak sebagai sutradara untuk film Miracle in Cell No 7 menginginkan sesuatu yang beda di film ini. Sementara dari pihak rumah produksi HB Naveen dan Frederica sebagai produser meminta Hanung untuk tidak keluar dari koridor film itu.

“Keterlibatan Bu Erika dan Pak Naveen sangat penting, karena sutradara mau tampil beda, ini tetap beda namun tetap dalam satu koridor,” ujar Hanung.

Hanung tidak menjiplak keseluruhan dari Miracle In Cell No. 7 versi Korea Selatan. Ada pembeda yang menekankan film ini berada di Indonesia, Berikut pembeda Miracle In Cell No. 7 versi Indonesia yang sempat disampaikan oleh Hanung.

1. Iklim

Jika anda telah menyaksikan Miracle In Cell No. 7 versi Korea Selatan maka sangat dipahami, iklim dalam film tersebut menjadi kunci dari alur cerita. Sayangnya, iklim Korea dengan Indonesia berbeda. Hanung tidak mau memaksakan hal ini. Maka ia mengubah jalan cerita yang terkait denga iklim tersebut.

“Yang bisa kita lakukan lebih kepada antropologi, budaya dan iklim yang ada di Indonesia beda dengan Korea. Di Korea iklim mempengaruhi sekali,” ujarnya.

2. Sistem Hukum
Hanung tidak mengadaptasi sistem hukum yang berlaku di Korea Selatan untuk Miracle In Cell No. 7 versi Indonesia. Namun, Hanung juga tidak akan menggunakan sistem peradilan yang ada di Indonesia. Hanung menciptakan dunia dan tatanan hukumnya sendiri dalam film tersebut.

“Kita hilangkan atribut. Enggak mau menampilkan ini negara Indonesia, dengan hukum ini, presiden ini. Negara sendiri, kota sendiri, bahkan nama penjara beda sendiri,” ujarnya.

Hanung melakukan hal tersebut karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Ia menghindari ada pihak yang tersinggung jika menggunakan secara utuh sistem hukum atau apapun itu yang ada di Tanah Air.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X