Launching Exclusive Foto Adegan Miracle In Cell No7

- Selasa, 12 Mei 2020 | 11:00 WIB
Adegan Miracle In Cell No7. (suaramerdeka.com/dok)
Adegan Miracle In Cell No7. (suaramerdeka.com/dok)

"Sistem hukumnya di cerita aslinya, tidak kita Indonesiakan, tapi berangkat dari dunianya sendiri. Dunia fiksi yang sama dengan versi aslinya," kata Hanung sembari menyitir masa lalunya pernah berurusan dengan hukum, karena sebuah film yang emoh dia sebutkan judulnya.

Dijelaskan Frederica, produser Falcon Pictures, me-remake Miracle In Cell No 7 ke dalam bahasa Indonesia, adalah pekerjaan serius rumah produksinya. Menimbang film ini, terlanjur sukses di negara aslinya, juga di banyak negara yang telah memutarnya. Tak ayal saat diremake dalam versi Turki, India dan Philipina, film ini juga tak kalah suksesnya.

"Untuk alasan itu, kita memilih mas Hanung. Bukan semata kimiawi kita uda kuat. Tapi untuk urusan drama, menurut hemat kami, tidak ada yang lebih kuat dari nama Hanung," kata Frederica.

Setelah Hanung direkrutnya, kemudian dengan melibatkan HB Naveen selaku Eksekutif Produser, mereka melibatkan Alim Audio sebagai penulis skenarionya. Selanjutnya sejumlah nama mereka kurasi untuk dilibatkan sebagai aktor utama dalam film ini.

Yang kemudian terkumpullah nama Vino Bastian, Bryan Domani, Mawar De Jongh, Graciella Abigail, Indro Warkop, Tora Sudiro, Deni Sumargo, Rigen dan Indra Jegel.

Lalu bagaimana para aktornya masuk ke dalam peran mereka masing-masing. Apakah ada sesi observasi yang sepantasnya, sehingga menghasilkan seni peran yang sepatutnya.

Menurut Vino G. Bastian, bukan pekerjaan mudah memasuki dan menjadi satu dengan peran kunci yang dipercayakan kepadanya. Tersebab, tokoh Dodo Rojak, adalah tukang balon yang memiliki keistimewaan sebagai persona intelektual disabilitas yang beririsan dengan penyakit autisme. Sekaligus sangat-sangat mencintai anaknya.

"Pihak Falcon sampai melibatkan tiga psikolog yang sekaligus sebagai praktisi. Dengan harapan dapat memberikan masukan kepada saya, pemilik keistimewaan intelektual disabilitas dan autisme itu seperti apa. Dari bahasa tubuh, cara berbicara dan semua aspeknya, saya pelajari dengan penuh kehati-hatian. Jadi, ada observasi di sana dan tidak asal," terang Vino.

Ditambahkan Hanung, pelibatan tiga psikolog bertujuan memberikan logika dasar di film ini. "Karena para psikolog itu, juga penonton film. Jadi  kami tetap tidak kaku, karena tetap ada dramatisasi di sana," katanya.

Tercatat, ada 11 foto adegan film Miracle In Cell No.7 yang dirilis. Menurut rencana film ini akan segera dirilis dengan catatan pandemi Covid-19 berakhir di Indonesia. Yang pasti, dijanjikan Frederica, film versi Indonesia ini akan sangat menguras emosi penontonnya. "Saya eksited banget lihat hasilnya. Tinggal nanti kita tonton bareng saat rilis resmi," pungkasnya

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X