Launching Exclusive Foto Adegan Miracle In Cell No7

- Selasa, 12 Mei 2020 | 11:00 WIB
Adegan Miracle In Cell No7. (suaramerdeka.com/dok)
Adegan Miracle In Cell No7. (suaramerdeka.com/dok)

APA tantangan paling utama, sekaligus membuatnya menjadi istimewa, menggubah sebuah film, yang terlanjur menancap terlalu dalam di memori paling relung penontonnya? Pembacaan ulang dengan cara paling laras dan disesuaian dengan citarasa paling dekat dengan nuansa ke-Indonesia adalah jawaban satu-satunya .

Demikian dikatakan Hanung Bramantyo yang dipercaya Falcon Pictures selaku rumah produksi, saat menyutradarai film Miracle In Cell No.7 (2013) ke versi Indonesia. Menggarap film remake ini, kata Hanung, adalah tantangan terbesar keduanya, setelah "membaca" film Bumi Manusia (2019).

Hanya bedanya, dalam Bumi Manusia dia musti mengalihbahasakan sebuah teks dalam medium audio visual. Sedangkan dalam remake film Korea Miracle In Cell No.7, dia musti menggubah cita rasa bahasa gambar, persoalan sosial budaya, hingga antropologi dan iklim Korea dalam nuansa Indonesia.

"Mau diubah dalam bahasa Jawa sekalipun, me-remake film mempunyai tantangan yang sama," kata Hanung Bramantyo dalam sesi
Launching Exclusive Foto Adegan Miracle In Cell No.7 via aplikasi Zoom di Jakarta, Senin (11/5) petang.

Tantangan terberat lainnya, membuat film dalam versi Indonesia ini, adalah menyulapnya sesukses film versi aslinya. Yang mengharubiru, sekaligus mengocok perut penontonnya. Menyelaraskan kekuatan drama, komedi dan sedikit aksi dengan sama baiknya. Harapannya, penontonnya pelanpelan melupakan versi aslinya, untuk kemudian jatuh cinta dengan versi Indonesia-nya.

Sebagaimana penonton film versi Turki, India dan Philipina film Miracle In Cell No.7 jatuh hati dengan versi film mereka di negara masing-masing.

"Pokoknya susahlah. Saking susahnya, (me-remake film ini) ngga ada di pelajaran saat kuliah (film) dulu," imbuh Hanung.

Yang pasti Hanung menjanjikan tulang cerita versi Indonesianya sama dengan versi aslinya. Hanya feel-nya dia Indonesiakan sedemikian rupa.

Meski dia tetap mewanti-wanti, untuk urusan persoalan hukumnya di cerita versi film aslinya, tidak dia Indonesiakan. Karena implikasinya menurut dia, dapat menerbitkan kontraversi dan sangat bisa berisiko bahkan dapat memukul balik para pembuat filmnya.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X