• KANAL BERITA

Merayakan Indonesia dalam Film Lima

Sutradara dan pendukung utama film Lima. (suaramerdeka.com/Benny Benke)
Sutradara dan pendukung utama film Lima. (suaramerdeka.com/Benny Benke)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Menyaksikan film Lima, produksi Lola Amaria Production, adalah menonton Indonesia, dengan segala kompleksitasnya. Di tangan produser cum sutradara seperti Lola Amaria, film Lima yang berangkat dari skenario apik Sinar Ayu Masie dan Titien Wattimena, menjadi kaca benggala peri kehidupan Indonesia mutakhir.

Kisah tentang sebuah keluarga, yang masing-masing anggota keluarganya berbeda keyakinan dan agama, menjadi muara sekaligus hilir drama yang mengena. Mengena karena persoalan Kebhinekaan yang dewasa ini seperti sedang dicoba di Indonesia kita, dinarasikan di film Lima, dengan organik dan natural. Sehingga justru menjadi luar biasa.

Keluarbiasaan itu, tidak semata mampu menabrakkan prinsip-prinsip beragama, yang satu dengan yang lain, dalam hal ini Islam dan Nasrani, dengan cara yang paling subtil. Seperti persoalan sesosok jenazah yang pernah murtad, dan kembali kembali menjadi Islam, ditolak disholatkan di sebuah masjid, karena mazhab almarhumah, berbeda dengan mazhab masjid setempat.

Juga misalnya, seorang anak yang Nasrani, dipahami dilarang atau diharamkan turun ke liang lahat, untuk sekadar turut mengebumikan ibunya yang Muslimah.

Persoalan-persoalan mendasar yang sedang dan akan terus terjadi di Indonesia inilah, yang digambarkan di film Lima, dengan mempesona. Termasuk persoalan pribumi dan non pribumi, juga nilai-nilai hukum, yang tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

Di tangan racikan bersama lima sutradara, yang dimaksudkan merepresentasikan nilai lima sila dalam Pancasila itulah, film ini dibuat.

Adalah Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriyansyah, dan Adriyanto Dewo, masing-masing menyutradarai satu babak, yang merepresentasikan setiap sila dalam Pancasila. Sehingga utuh berkisah dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, hingga Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakya Indonesia, di sila kelima.

Hebatnya, irisan pergantian sila itu, nyaris tak terlihat sepanjang film ini. Sehingga, menonton film yang akan edar mulai 31 Mei nanti, seperti menontom satu film utuh, yang disutradarai satu sutradara tunggal saja.

Ihwal persoalan teknis ini Lola, dalam preview perdana film itu, pada Kamis (24/5) petang, mengatakan, karena semua, dengan semangat menurunkan tensi ego sebagai sutradara, atas nama Pancasila, menyerahkan sepenuhnya 'penjahitannya kepada editor film.

Untungnya lagi, denga bekal skenario yang apik, sutradara yang handal, pelakon kunci film ini, juga tak kalah eloknya menjadi pendukung orkestrasi untuk membangun sebuah film yang aduhai.

Tri Yudiman, Baskara Mahendra, Prisia Nasution, Yoga Pratama dan Dewi Pakis menjadi aktor yang mampu menghidupkan sekaligus mengayakan peran mereka masing-masing, dengan mustahak. Hasilnya, menonton film Lima, adalah merayakan Indonesia, yang memang belum selesai dengan dirinya sendiri.


(Benny Benke/CN40/SM Network)