• KANAL BERITA

Prambanan Orchestra 2018 Hadirkan Komposer Wahid Dunia

Foto suaramerdeka.com/dok
Foto suaramerdeka.com/dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pada 20 Oktober 2018 nanti, Rajawali Indonesia Communication bersiap menghadirkan  sajian konser musik mega Live Orchestra berlatar megahnya Candi Prambanan.

Pada gelaran Prambanan Orchestra pertama ini, sebagaimana dijelaskan Anas Syahrul Alimi, selaku promotor, akan menghadirkan musisi dan komposer besar dunia. 

"Dia dikenal sebagai musisi yang biasa konser di venue-venue heritage di dunia," kata Anas di Jakarta, Kamis (24/5) sembari memberikan clue, komposer besar itu,  tercatat pernah menggelar konser di tempat-tempat bersejarah.

Antara lain Taj Mahal di India, Forbidden City di China,  Kremlin di Russia,  Kastil El Morro di Puerto Rico, Kota Kuno Byblos di  Lebanon, Roman Theatre of Carthage di Tunisia, Burj Khalifa di United Arab Emirates, The Acropolis di Yunani, Piramid di Mesir, dan Colloseum di Roma Itali. 

Bahkan, albumnya “Live at Acropolis” dinobatkan sebagai album terlaris di dunia nomor dua ( di bawah album pertama milik Michael Jackson, berjudul Thriller) dengan penjualan sebanyak 7 juta copy diseluruh dunia. Serta menjadi salah satu siaran paling populer dari PBS dengan jumlah penonton 500.000.000  orang di 65 negara.

Konser di situs-situs tersebut merupakan konser pertama yang diperbolehkan digelar dan sejauh ini. Dan hanya sang komposer yabg masih dirahasiakan namanya oleh Anas, yang boleh konser di tempat tersebut. 

Karena konsep dari musiknya ”One World, One Human,” diklaim telah mampu menyampaikan bahasa secara universal via musik-musiknya yang sublim, magis, indah sekaligus menghipnotis.

Di Prambanan Orchestra nanti, Anas menjanjikan, komposer yang telah mendunia itu, akan memboyong langsung 58 musisi orchestranya.

 "Yang sangat menarik, para musisi utama dalam orkestrasi musiknya berasal dari berbagai macam negara. Instrumen yang digunakan juga dari berbagai macam etnik.  Serta mampu menciptakan harmoni lagu yang eksotik dan menginspirasi," ujar Anas yang masih menyimpan rapi nama komposer wahid tersebut.

Dengan kehadiran nama besar ini, Anas menghimbau publik penikmat musik, jangan sampai kehilangan momen dan melewatkan peristiwa kebudayaan langka ini. 

"Jadilah saksi sejarah yang bisa kita ceritakan ke anak cucu kita. Mari kita bersama-sama merayakan kebudayaan lewat harmonisasi musik dan keagungan candi Prambanan," katanya.

Gus Dur dan Orchestra

Apa yang melatarbelakangi founder ajang tahunan JogjaRockarta itu, menghelat Prambanan Orchestra 2018.

Sepengakuannya, yang membayang lekat dalam ingatannya adalah sosok Gus Dur. Menurut dia, mantan Presiden RI ke IV itu, memiliki resep dalam hidupnya yang sangat genuine, yakni orkestra. Bukan kebetulan belaka, sebagaimana disigi dari serangkaian biografi tentang Gus Dur yang tersebar di banyak toko buku dan perpustakaan, selain buku, Gus Dur maniak dengan musik-musik klasik.

Dalam catatan Anas, kegandrungan Gus Dur terhadap musik klasik, terjadi sewaktu cucu pendiri NU itu, belajar di Timur Tengah dan Eropa. Karena toko paling favorit yang ia kunjungi adalah toko musik. 

Sederet piringan hitam yang dikoleksi Gus Dur, antara lain karya Wolfgang Amadeus Mozart, Peter Ilich Tchaikovsky, Johan Sebastian Bach, Frans Schubert, dan Frederic Chopin. Selain,Bethoven yang amat digandrunginya. Terutama sekali, karya magnum opus sang maestro, Shimpony No, 9 in D minor. 

"Bagi Gus Dur, komposisi itu diciptakan saat sang maestro berjuang keluar dari badai kesulitan yang menyayat hayatnya. Sampai-sampai Gus Dur menyebut simponi ini sebagai “the inhuman voice”", kata Anas.

Dia melanjutkan, kecintaan Gus Dur terhadap genre musik klasik ini, tanpa sadar, turut diinternalisasikan ke dalam amalan sosial dan pilihan gerakan politiknya.

"Sebelum periode Muktamar NU Situbondo Desember 1984, Gus Dur dapat diumpamakan sebagai pemusik tunggal. Ia pencari dan penyerap suara dan bunyi dari berbagai rahim sosial, " kata Anas.

Gus Dur bagi Anas, serupa trubador atau pemusik kelana flamboyan Leo Kristi. Namun, setelah ia memimpin NU, sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia,  tongkat konduktor musik orkestra ia mainkan sedemikian rupa.

Sebagai seorang konduktor yang juga memahami hak asasi, Gus Dur paham begitu banyak suara yang mesti diajeni.

 Dalam orkestra, bukan seberapa besar alat musik itu menentukan untuk mendapatkan porsi suara yang dominan, melainkan konduktor sedang memainkan komposisi apa dengan harmoni macam apa. 

Pada akhirnya, bukan siapa memainkan apa, melainkan apakah bisa mencapai titik harmoni yang menjadi “common sense” cita-cita konstitusi bernegara dan kemaslahatan dalam berkebangsaan yang plural.

Bagi mereka yang tak mengikuti prinsip-prinsip dasar musik, atau bahkan mengharamkan sama sekali musik dalam gendang pendengaran, Gus Dur tampak seperti badut gila yang tak jelas juntrungannya. "Ia ke sana ke mari seperti pendekar mabuk yang sama sekali tak punya kecakapan memimpin umat," jelas Anas sembari mencontohkan.

Hari ini Gus Dur mengisi seminar di kelompok Petisi 50, esoknya sudah duduk di Cendana di kediaman Pak Harto untuk membicarakan hal lain. Suatu ketika ia menghantam ICMI dan HMI, namun ia bisa enteng semeja ngeteh bersama Jenderal L.B. Moerdani dan safari ke pesantren-pesantren bersama mBak Tutut.

Gus Dur tahu betul risiko seorang konduktor sepertinya di tatanan masyarakat yang diperintah jenderal-jenderal totalitarian. "Sekali ia saklek, jamiah puluhan juta umat sungsep. Gus Dur berjuang dengan sangat keras agar yang kecil tak mati diinjak-injak dan yang besar tidak jumawah," cerita Anas.

Di dalam orkestra-lah semua bunyi dan nomor bisa dimainkan. Musik klasik dari Barat, di telinga Gus Dur, bisa kawin begitu saja dengan musik-musik Timur tengah. Gending wayang di Jawa tidak masalah duduk bersama dengan dangdut koplo ala Inul Daratista. Bahkan, musik dengan lirik-lirik kritik sosial akrab dengan Gus Dur. 

Konser berbasis orkestra adalah panggung besar di mana semua genre musik bisa dimainkan dalam komposisi yang dipimpin seorang konduktor yang andal. Gus Dur memang bukan pemain musik. Apalagi, pencipta lirik lagu sebagaimana citrawi presiden sesudah dirinya. Tapi justru sosok Gus Dur lah yang mengilhami Anas menginisiasi Prambanan Orchestra 2018, nanti. 


(Benny Benke/CN19/SM Network)