• KANAL BERITA

PPFI Kecam Pelarangan Film 212

Film 212 The Power Of Love. (Foto suaramerdeka.com/dokumen)
Film 212 The Power Of Love. (Foto suaramerdeka.com/dokumen)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sehubungan dengan aksi pelarangan yang dilakukan Forum Muda Dayak Kalimantan Tengah, atas pemutaran film 212 (The Power of Love) di bioskop 21 Palma, Palangkaraya, berdasarkan surat pernyataan Forum Muda Dayak Kalimantan Tengah, tertanggal 13 Mei 2018, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) megecam keras tindakan itu.

Sebelumnya Forum Muda Dayak Kalimantan Tengah, menyatakan film 212 mengandung muatan politis. Yang dapat memicu kerusuhan atau SARA, oleh karena itu, menyerukan kepada publik di Kalimantan Tengah, juga di seluruh Indonesia memboikot film 212. Sekaligus menolak film ini diputar di bioskop 21 Palma, Palangkaraya.

Meski sehari kemudian, atau tanggal 14 Mei 2018, akhirnya tercapai kesepakatan, film 212 boleh ditayangkan di bioskop 21 Palma. Karena selain telah mengantongi Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) dari Lembaga Sensor Film (LSF),  film 212 menurut Asma Nadia selaku produser film itu, "Tidak memuat sedikitpun unsur Sara juga pesan memecah belah anak bangsa. Yang ada justru sebaliknya, film ini banyak memuat semangat Kebhinekaan, ke-NKRI-an dan Kepancasilaan, " ujar Asma Nadia, Associate Producer film 212 The Power of Love,  di Jakarta, Selasa (15/5).

Meski menerima banyak hasutan, hadangan dan pelarangan penayangan film 212, seperti di Palangkaraya, Manado dan Papua, Asma Nadia meminta kepada siapapun yang melarang penayangan film 212 untuk menyaksikan terlebih dahulu film ini.

Karena, menurut dia, banyak penonton film non muslim, yang telah menyaksikam film 212 justru memberikan sambutan positif. Seperti pengakuan Olin. Pemeluk Kristen Protestan ini mengatakan, jika ingin mengetahui dilm yang menyimpam semangat cinta Indonesia, Pancaaila dan NKRI," Elo elo harus nonton film ini (Film 212," demikian dikatakan Asma Nadia membacakan komentar Olin di Jakarta.

Hal senada dikatakan Angelica. Anak pendeta di Manado ini mengatakan, apa keuntungan seseorang menyaksikan film 212? "Karena film ini menyerukan semangat persatuan. Cinta damai, toleransi dan Kebhinekaan".

Atau dalam bahasa Asma Nadia, film 212 yang sejak ditayangkan per tanggal 9 Mei lalu, hingga hari ini (15/6), atau 6 hari penayangan, telah mengumpulkan 302.000 penonton. "Mengusung semangat humanisme, dengan tema utama rekonsiliasi hati antarpelakonnya," kata Asma Nadia. 

Dia menambahkan film 212, justru banyak memberikan otokritik kepada umat Islam. Untuk tidak mudah emosi, gampang main pukul, juga agar tidak sembarangan dan terlalu mudah memberikan label kafir kepada orang lain.

Yang paling utama, film 212 justru mengedepankan hubungan baik antaranak bangsa. Yang tercermin dari gambaran banyak tokoh di film ini.

Atas pelarangan film 212 Ketua Umum PPFI H. Firman Bintang mengecam keras tindakan pelarangan dan penolakan pemutaran film tersebut di wilayah hukum Indonesia.

"Karena selain film itu sudah tayang beberapa hari lalu, film 212 juga sudah mendapatkan surat tanda lulus sensor dari LSF," kata Firman Bijtang. 

Dia menambahkan, sebaiknya orang yang tidak mengerti dan tidak paham dengan persoalan yang terjadi dengan adanya aksi radikal dari para teroris, tidak usah sok berkomentar dan menkait-kaitkan peristiwa tersebut dengan film 212, "Yang memang tidak ada sangkut pautnya. Apalagi pake melarang diputar,"  pungkasnya di Jakarta, Selasa (15/6) malam.

 


(Benny Benke/CN19/SM Network)