• KANAL BERITA

Volcano Rock Festival 2018

Europe: Boyolali Matursuwun

Joe Tempest, vokalis Europe benar-benar membakar Boyolali, dalam ajang Volcano Rock Festival 2018. (suaramerdeka.com/Benny Benke)
Joe Tempest, vokalis Europe benar-benar membakar Boyolali, dalam ajang Volcano Rock Festival 2018. (suaramerdeka.com/Benny Benke)

BOYOLALI, suaramerdeka.com ---  Sejenak setelah muncul di atas panggung Volcano Rock Festival 2018, atau tepat pukul 21.00 WIB, Europe langsung benarbenar membakar lebih dari 25.000 -an penonton yang menyesaki stadion Pandanarang, Boyolali.

Grup band asal Swedia yang diawaki Joey Tempest (vokal), John Levén (bass) Mic Michaeli (keyboard), Ian Haugland  (drum), dan John Norum (gitar), langsung menawarkan single pembuka,"Walk The Earth," dari album terakhir mereka.

Dengan kemampuan vokal yang masih prima, Tempest melanjutkan dengan single kedua,"The Siege".

Mengusung tema konser Walk The Earth, band yang  28 tahun lalu, sempat mampir dan konser di Jakarta dan Surabaya itu, kemudian baru membuka dialog. " Boyolali...Apa kabar...," pekik Tempest dalam bahasa Indonesia logat sekenanya.

Berikutnya mengalir single sohor, "Rock the Night," yang dianyanyikan dengan gegap gempita pada bagian chorrus oleh penonton. Di bagian penutup lagu ini, setelah berinteraksi sejenak dengan penonton, Tempest mengajak penonton bernyanyi.  "Ayo Nyanyi," ajaknya. 

Ketika nomor yang dibawakan secara cair dan melibatkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan, Tempest berteriak dalam bahasa Jawa: "Matursuwun". Yang tentu saja mendapatkan tanggapan tawa dan tepuk tangan secara bersamaan.

Berikutnya percakapan benar-benar dimulai.  "Semuanya baik-baik saja? Ayuk teriak yang kenceng. Berikutnya adalah lagu, " Scream"," katanya, sembari mengalirkan nomor stakato yang cepat itu.

Setelah itu, secara berurut mengalir nomor "Danger", "Skin", "Vasastan", "Open Your Heart", "War", "Heart of Stones", "Days of Rock n Roll," "Superstisius", "Ready or Not", dan "Hole".

Di antara jeda beberapa nomor lagu di atas, sesekali Tempest yang komunikatif itu, sengaja terus berupaya menjalin kedekatan dengan penontonnya. Dengan terus berbicara dalam bahasa Indonesia dan Jawa. "Kalian keren..Matursuwun hahaha saya ngga ngerti dengan apa yang saya katakan," katanya, terkekeh.

Dia bahkan tak sungkan sungkan memasukkan petilan nomor seperti "Here I Go Again," milik White Snake yang sohor via vokal David Coverdale, demi menjalin komunikasi dengan penontonnya.

Dan inilah nomer pelan yang paling ditunggu-tunggu berjudul,"Carrie,". Yang ajaibnya, di kota kecil seperti Boyolali, nomor legendaris ini, benar-benar meluncur dari grup band aslinya, secara live.

Nomor memorable ini purna, menyusul lagu "Storm Wind," "Prisoners", dan "Cheeroke". Dan seperti yang diduga, lagu andalan yang telah menjadi ingatan dunia berjudul "Final Countdown," mengalir sebagai penutup sempurna.

Dalam temu wartawan malam sebelum pentas (11/5), Tempest mengatakan, dalam merayakan 30 tahun “The Final Countdown”,  Joey Tempest berharap, tema konser “Walk The Earth” menjadikan bandnya,  sebagai band yang memiliki nilai-nilai sosial, budaya dan lingkungan hidup. Sebuah niat yang mulia.

Konser yang digagas Bupati Boyolali, Drs Seno Samudro, via bendera Boyolali Satu dan bekerja sama dengan JogjaRockarta ini,  mengusung tagline Gemah Ripah Rockjinawi. Sebelumnya juga menyajikan legenda hidup musik rock Indonesia, God Bless sebagai band pembuka.

Dengan sisa-sisa kebesarannya, dengan luar biasa Ian Antono, Achmad Albar, Donny Fatah, Abadi Soesman dan Fajar Satriatama, masih mampu memberikan penghiburan yang  sulit dilupakan.

Sejumlah superhits seperti Menjilat Matahari, Kehidupan, Kepada Perang, Cermin, Emosi, Musisi, Rumah Kita, Syair Kehidupan, Panggung Sandiwara, Bis Kota, Trauma, dan Semut Hitam seperti melempar kembali ke masa kejayaan God Bless di tahun 90- an hingga 2000-an. Ketika stamina personelnya masih prima, dan usia belum menggerus kualitas aksi mereka saat tampil di atas panggung. 

Tapi kelegendaan dan nama besar God Bless tetap menyisakan ruang maaf, atas kealpaan stamina yang kodrati itu.

Apa pun, niat Seno Samudro yang ingin menyajikan band kelas dunia ke Boyolali, dengan harga tiket super murah, agar terjangkau masyarakat, menjadi point positif festival tahunan ini.

"Saya sudah dapat tanggal untuk lima grup band dunia lain, yang mau tampil di Boyolali. Dari Judaspriest, Scorpion, Deff Leppard, Queen, dan Deep Durple," katanya kepada suaramerdeka.com, sebelum konser di Rumah Dinas Bupati. 

Kita tunggu saja dan sambil berdoa, nama-nama raksasa itu, benar-benar menginternasionalkan Boyolali ke level dunia. Sebagai salah satu kota rock dunia. (Benny Benke).

 


(Benny Benke/CN40/SM Network)