• KANAL BERITA

Chrisye, Lelaki Sejati Tak Pernah Pergi

Chrisye (foto: istimewa)
Chrisye (foto: istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Hari ini, 11 tahun lalu, atau tepatnya 30 Maret 2007, salah satu dari sedikit penyanyi penting di Indonesia, bernama Chrisye, telah pergi meninggalkan kita semua. 

Tapi hebatnya,  Chrismansyah Rahadi atau bernama lahir Christian Rahadi, kelahiran Jakarta, 16 September 1949, tidak pernah benar-benar mati. Bukan semata karena jejaknya yang terlalu dalam di hati kita semua. Tapi kenangannya memang terlalu kuat untuk tanggal dari memori pencintanya. 

Tidak berlebihan jika para pencintanya selalu, dan senantiasa menyediakan ruang pertemuan privat dan merdeka di sanubari mereka masing-masing. Ya, sebagaimana adagium lawas mengatakan, nasib baik hanya menghampiri dan berpihak pada manusia pemberani,  dan laki-laki sejati serta pemberani tak pernah benar-benar mati. 

Adagium itu, sangat pas dan presisi disematkan kepada sosok Chrisye. Dengan segenap keberaniannya, dia memilih dan dipilih dunia seni, untuk saling menghidupi dan dihidupi. Sebuah pilihan awal, yang sepenceritaannya kepada penulis, di medio tahun 2006, sempat menimbulkan hubungan yang tidak nyaman, dan membuatnya harus berpunggungan dengan kedua orang tuanya. 

L Rahadi dan Hana, orang tua yang telah melahirkan Chrisye, sepenceritaan Chrisye, tidak pernah berpikir jika kelak anaknya akan menjadi salah satu dan sekali lagi dari sedikit penyanyi penting Indonesia. Betapa tidak? 

Anak kedua dari tiga bersaudara ini, pada awalnya toh berperilaku sebagaimana anak-anak kebanyakan. Gemar bernyanyi di kamar mandi, juga tikungan kamar dan ruang tamu di rumah orang tuanya. 

Memang pada masa kanak-kanak Chrisye, suka menyanyi. Akan tetapi itu pun pada batas wajar. “Ya menyanyi sebagaimana anak kecil lain menyanyi. Sebatas hobi,” ujar ayah empat orang anak ini membuka cerita. Atau setahun sebelum maut menyapa dan menjemputnya, dengan cara yang paling santun. 

Di bangku SMA-lah aktivitas menyanyinya menjadi semakin kuat. Hingga lulus SMA pada 1967, ayah Anissa, Risty, serta si kembar Masha dan Pasha ini, sempat “mampir” sejenak di Teknik Arsitektur dan APK (Akademi Pariwisata & Perhotelan Trisakti).

Namun panggilan hati untuk menyanyi ternyata lebih kuat. Ia akhirnya dengan segala keberaniannya, memutuskan dan menetapkan hati keluar dari dua fakultas itu. 
Setelah keluar dari bangku kuliah inilah, bersama kawan-kawan dia membentuk grup Sabda Nada Band pada 1968-1969.

Setelah itu bersama kawan-kawan di Gang Pegangsaan seperti Zulham Nasution, Gauri Nasution, Keenan Nasution, Onan, dan Tami membentuk Gipsy Band yang bertahan hingga 1974. Bayangkanlah. Tidak semua anak muda saat itu, benar-benar mempunyai keberanian mengambil langkah meninggalkan bangku kuliah. Untuk kemudian mengadu nasibnya di dunia seni, yang penuh ketidakpastian, pergunjingan, bahkan citra semu.

Sebuah dunia, yang terlalu banyak onak, tikungan tajam, dan tanjakan tak berkesudahan. Dunia yang cenderung menjadi musuh utama para orang tua, yang anak-anaknya malah menjatuhkan pilihan sadar kepadanya. 

Bukan sebuah dunia yang bisa diprediksi, tidak ajeg angin rejekinya, dan berkawan baik dengan ketidakpastian. Tapi, pada saat bersamaan, hanya manusia-manusia terpilih lah yang mempunyai keberanian yang tak berperi, dan sanggup menghadapinya. Dengan segala konsekwensinya. 

Dan adagium lawas itu, tampaknya, pada akhirnya, pelan-pelan menumpahkan tuahnya kepada Chrisye. Nasib baiknya, benar-benar menyertai kaum pemberani. Persona seperti Chrisye. Dengan segenap keberaniannya pula, saat itu, ia mengembangkan kreativitasnya berama The Pros. Band berawak Chrisye, Broery Marantika, Dimas Wahab, Pomo, Ronnie Makasutji, dan Abadi Soesman. “Bersama dua band ini kami sempat manggung di New York selama dua tahun di Ramayana Restaurant,” kenang Chrisye.

Sekembali ngamen dari Negeri Paman Sam itulah dia bergabung dengan Guruh Soekarno Putra dengan membentuk Guruh Gipsy. Setelah menelorkan beberapa album, pria kalem yang pernah bermain dalam film Seindah Rembulan dan Gita Cinta Dari SMA, ini akhirnya, sekali lagi, dengan keberaniannya, memutuskan bersolo karier.

Setelah itu namanya pelan dan pasti terkenal dalam blantika industri musik Indonesia, via tembang “Lilin-Lilin Kecil” karya James F Sundah pada 1977. Sejurus kemudian, bergilir lahir album “Badai Pasti Berlalu” karya Eros Djarot melejit lewat olah vokalnya. Kemudian “Sabda Alam” dan tembang-tembang populer lain, yang tak lekang oleh zaman, meski waktu berupaya berkali-kali menelikungnya. 

Super single atau tunggalan seperti “Aku Cinta Dia”, dan “Hip Hip Hura” dan beberapa nomor lainnya, yang sempat hits pada kurun 1986, toh sampai sekarang masih hidup saja. Dengan caranya sendiri. Cara ajaib, yang hanya mampu dilakukan oleh mahakarya yang telah mencapai maqam purna. 

Dan Anda, para pembaca yang bijak bestari tahu, kepada siapa dia mengalamatkan keberhasilannya saat itu? “Semua itu tidak mungkin bisa saya raih tanpa dukungan istri yang baik,” katanya kala itu, sembari melirik istrinya, Yanti. Perempuan berjilbab yang menurunkan kecantikannya kepada Annisa, putri sulung mereka yang baru saja diwisuda, kala itu. 

Bahkan anak-anak, teristimewa si kembar juga memberikan dukungan yang tidak kalah penting dalam perjalanan kariernya, sampai ajal meminangnya. 

Bahkan pada saat Agustus 2005, ketika Chrisye didiagnosa menderita kanker paru-paru stadium empat, dan mengharuskannya dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Serta mengharuskannya melalui serangkaian kemoterapi, keempat anak-anaknya, dan istrinya tidak henti-hentinya memberikan dukungan yang luar biasa.

“Merekalah semangat hidup saya yang sebenarnya,” katanya haru.

Berkat dukungan istri dan anak-anak yang mencintai dan dicintainya inilah, puluhan album dihasilkan dan membuatnya meraih sejumlah penghargaan. 

Dari BASF Award, Golden Record, HDX Award, MTV Video Music-Best Male Singer, AMI Sharp Award sebagai Penyanyi Solo Terbaik Kategori Pop Progressive, hingga BASF Award sebagai Penyanyi Legendaris (1994) diraihnya. 

Dan puluhan penghargaan bergengsi lain yang akan sulit diikuti penyanyi Indonesia lainnya.

Ihwal begitu dekatnya Chrisye dengan keluarganya, menempatkan dirinya sebagai laki-kaki sempurna. Bahkan mengatasi keberaniannya saat memutuskan diri terjun sebagai seorang musisi. Seniman musik. Anda sidang pembaca yang berkelimpahan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, pasti sangat mahfum sekali dengan petilan ajaib berbunyi," A man who doesn't spend time with his family can never be a real man". 

Atau dalam bahasa bebas Mario Gianluigi Puzo, wartawan dan novelis asal AS yang mempunyai darah dari Sisilia, dan menulis novel The Godfather yang sohor itu,  ingin mengatakan: Laki-laki sejati adalah orang rumahan. Family Man. Seperti Chrisye yang sangat mencintai keluarganya, dan sangat dicintai keluarganya. 

Laki-laki sejati seperti Chrisye lah yang pantas dikenang. Bukan sekadar pemberani, dengan mengadu nasibnya di dunia musik Indonesia. Tapi kesejatiannya mengabdikan hidupnya untuk keluarga kecil tercintanya.

Keluarga intinya pula, yang secara tidak sadar diaciptakan menjadi sumber kekuatannya. Karena kita tahu, kKekuatan sebuah keluarga bagai kekuatan sepasukan tentara, terletak pada kesetiaan satu sama lain.

Puzo mengatakan: The strength of a family, like the strength of an army, lies in its loyalty to each other. Dan kekuatan keluarga inti tak ubahnya sepasukan tentara itu, mewujud pada keempat anak Chrisye dan istri tercintanya, Yanti. Bersama pasukan khususnya itu pula mendiang Chrisye mewarnai Indonesia dengan merdu suaranya. Kemerduan yang membuat para pencintanya, terus mengenang namanya sampai, dan mungkin sampai nanti. 

Anda yang budiman dan berbudi pekerti pasti tahu, semua yang pergi akan kembali dengan caranya sendiri. Dan kenangan Chrisye terus kembali, dengan caranya sendiri. Sebagaimana yang dilakukan Ketua Komunitas Kangen Chrisye (K2C), Ferry Mursyidan Baldan, yang sekaligus die hards Chrisye. Politisi dan mantan menteri itu, bahkan telah dan terus mengembalikan kenangan Chrisye dengan berbagai macam cara. Di antaranya dengan telah membuat dua buku tentang Chrisye, serta mengadakan lomba menyanyi lagulagu Chrisye antarwartawan.

Tercatat, pada tahun 2012 bertepatan dengan 5 tahun Chrisye wafat, K2C menerbitkan buku Chrisye "Kesan di Mata Media dan Fans". Lalu bertepatan 10 Tahun Chrisye meninggal, menerbitkan lagi buku "10 Tahun Setelah Chrisye Pergi," Ekspresi Kangen Pengemar.

Bahkan baru-baru ini sebuah film tentang Chrisye telah dirilis ke pasar. Dan mendapatkan dukungan dari anggota K2C. Singkat kata,  banyak cara digunakan untuk "menghidupkan" kembali Chrisye. Chrisye boleh telah pergi. Untuk selamanya. Tapi laki-laki sejati tidak pernah benar-benar mati. 

 


(Benny Benke/CN40/SM Network)

  • Tags
Berita Terkait
Loading...
Komentar