• KANAL BERITA

Didi Kempot "Pamer Bojo"

SWAFOTO: Didi Kempot melayani swaphoto penggemarnya ketika menggelar konsert tunggal di Solo, Kamis (19/9) malam. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
SWAFOTO: Didi Kempot melayani swaphoto penggemarnya ketika menggelar konsert tunggal di Solo, Kamis (19/9) malam. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

TEMBANG "Pamer Bojo", bagi penggemar Didi Kempot, seolah jadi lagu wajib. Dalam konser tunggal di The Sunan Hotel Solo, Kamis (19/9) malam, sang idola hingga tiga kali menyanyikan tembang itu, demi memuaskan para penggemar. Mulai dari yang berirama campur sari, pop, hingga dangdut, ditambah dengan cendol dawet.

Selain "Pamer Bojo", dalam konser lebih dari dua jam mulai 19.45 WIB itu, ada 15 tembang didendangkan Didi Kempot. Baik lagu lawas yang diaransemen baru maupun benar-benar anyar. Seperti "Cidro", "Layang Kangen", "Stasiun Balapan", "Tanjung Mas Ninggal Janji", "Sewu Kutha", "Terminal Tirtonadi", "Tangise Ati", "Ketaman Asmoro", "Suket Teki", "Terminal Kertonegoro", "Banyu Langit", "Ambyar", dan sebagainya.

Semua lagu itu mampu mengaduk-aduk emosi 1.500 penggemar yang memenuhi ballroom hotel, sebagian besar perempuan dan berusia muda atau milenial, meski ada yang terbilang tua. Maka sangat beralasan kalau parempuan milenial itu ikut terharu mendayu-dayu ketika lagu-lagu yang bertema patah hati itu dinyanyikan.

Mereka sangat hafal dengan lagu-lagu itu. Para penggemar yang dijuliki "sahabat ambyar itu" tidak hanya dari Solo dan sekitar, tapi lebih banyak dari luar kota seperti Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Purwodadi, Ngawi, Magetan, dan Pacitan. "Teman-teman ini pasti pernah patah hati ditinggal pacar, suami, atau istri. Atau setidaknya kangen dengan sang pacar, suami, atau istri yang nun jauh di sana," kata Didi Kempot yang kini mendapat julukan baru, Godfather of broken heart.

Namun tak sebatas melantunkan tembang syahdu yang mengusik kalbu. Anak dari Ranto Edi Gudel itu juga berkali-kali melayani swaphoto para penggemar tiap kali melintas di pangung yang kanan kirinya dipenuhi penonton VIP. Sapa penggemar juga berkali-kali dilakukan dengan penonton kelas festival.

"Jauh-jauh dari Pacitan, saya sengaja nonton Didi Kempot. Siapa yang tidak menyukai lagu-lagu Didi Kempot yang bisa merobek hati, ambyar, ha ha ha ha...... ," canda salah seorang sahabat ambyar.

Sementara itu dalam konferensi pers sebelumnya terungkap, beberapa bulan belakangan ini, penyanyi Didi Kempot memang kembali moncer. Konsernya selalu di penuhi penonton, tidak hanya di tempat terbuka tapi juga indoor. Para mahasiswa kini juga tidak lagi malu-malu mengundang Didi Kempot untuk acara kampus.

Melintas Batas

Bersama Rumah Blogger Indonesia, tampaknya Didi Kempot melintas batas. Penggemarnya kini tidak hanya orang tua, tapi juga anak-anak-anak muda yang terhitung cucu dari penggemar generasi pertama di mana Didi Kempot mengawali karier di blantika musik tahun 1989.

Branding baru sebagai "The God Father Of Broken Heart" bisa masuk ke dunia anak muda sebagai penggemar baru tanpa meninggalkan penggemar lama yang sepuh-sepuh. "Banyak anak muda yang pernah mengalami patah hati. Nah di situlah lagu-lagu Didi Kempot bisa masuk," kata Blontank, pendiri rumah blogger.

Namun bagi Blontank, pertemuannya dengan anak pelawak adik Mamik Srimulat itu tidak hanya ngopeni hal-hal yang cengeng atau berorientasi pada profit. Tapi rumah blogger mendorong Didi Kempot sebagai ikon bahasa ibu. Blontank mengatakan, lagu-lagu Didi Kempot tidak hanya lagu cengeng yang melankolis, tapi juda ada pesan tentang kesetaraan gender dan nasionalis.

Jika disimak, kata Blontang, syair-syair lagunya yang sebagian besar Bahasa Jawa atau bahasa ibu, juga dinilai bermutu. Secara linguistik penulisannya juga benar, demikian juga dengan ejaannya. Ia mengatakan, jika bahasa-bahasa yang benar disampaikan secara benar oleh idolanya, maka anak-anak muda akan mudah menangkapnya. Ke depannya, bahasa ibu itu akan lestari.

"Itulah alasan, kenapa kami mendorong Didi Kempot sebagai ikon bahasa ibu, Bahasa Jawa. Kita berharap, di Sunda, Bali, Minahasa, dan di tempat berbeda juga muncul ikon-ikon lain untuk melestarikan bahasa ibu.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)