• KANAL BERITA

Ketua Lesbumi NU Jateng Baca Puisi Tunggal Pukul 00.17 WIB

foto: suaramerdeka.com/dok
foto: suaramerdeka.com/dok

SEMARANG, suaramerdeka.com - Bertempat di Gubuk Tempayan, kota Semarang, Ketua Lesbumi NU Jateng, Lukni Maulana, membacakan karya puisinya tepat pada detik-detik tanggal kemerdekaan yakni pada pukul 00.17 WIB. Pembacaan puisi dengan mengusung tema Botol, Sabtu (17/8)

Kecintaan tidak selalu dengan pujian sebab pujian dapat memicu sifat munculnya kesombongan. Bentuk lain ungkapan cinta adalah dengan cara memberikan kritik atas kekurangannya. Sehingga ia akan mampu berproses untuk menjadi lebih baik. Inilah yang dilakukan Ketua Lesbumi NU Jawa Tengah membacakan puisi tunggalnya dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-74 RI.

Acara dilaksanakan pada pukul 00.17 WIB, mengambil detik ke-17 yang berarti tanggal kemerdekaan. Begitu juga setting panggung yang nampak bendera berjumlah delapan yang bermakna bulan kemerdekaan dan batu yang berjumlah 1945 yang mempunyai maksud tahun kemerdekaan.

Pembacaan teks proklamasi menjadi penanda berlangsungnya acara. Lalu dilanjutkan dengan membaca UUD 1945 pasal 33, dan pembacaan. Teks puisi tersebut di antaranya berbunyi: privatisasi dan liberalisasi/rapalan kitab suci/air/botol/plastik/indonesia dalam kemasan.

Itulah cara ketua Lesbumi NU Jawa Tengah dalam mengungkapkan kecintaan untuk negara. Bawasanya sesuai pasal 33 bahwa bumi, air, dan tambang dikuasai negara untuk memberikan kemakmuran kepada rakyatnya. Namun kenyataannya sangat tidak sesuai dengan harapan, memang harapan tinggallah harapan semuanya bisa menguasai salah satunya swasta dan pihak asing.

Pada akhir pertunjukkan puisi terdengar nyanyian dolanan yang berbunyi: Alas-alas gundul-dul gembelengan/gunung-gunung ajur-jur gembelengan/banyu udan dadi ngebaki dalan/banyu kali sobone tengah ratan.

Lukni Maulana mengatakan, sebagaimana instalasi pukul 17, 8 bendera, dan 1945 batu memiliki makna. Bawasanya shalat adalah fondasi agama, angka 17 bermakna 17 jumlah rakaat shalat mari saatnya bangun pondasi bangsa ini dengan kedaulatan.

"Memegang teguh kecintaan kita pada NKRI dan tanpa merusak sumber daya alam yang menjadi kekayaan bangsa ini," tuturnya

Acara peringatan kemerdekaan ke-74 RI persembahan Lesbumi NU Jawa Tengah yang didukung oleh Yayasan Badan Wakaf Nusantara ini memang benar-benar pembacaan puisi tunggal dengan satu pembaca, satu puisi, dan satu penonton.


(Red/CN40/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar