• KANAL BERITA

Film Ramah dan Juang Tembus 20 Besar

Pengalaman Perdana

AJANG FFMI: Para personel dua tim dari Untidar foto bersama usai mengikuti ajang FFMI 2019 di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung dengan hasil tembus 20 besar. (Foto suaramerdeka.com/dokumen)
AJANG FFMI: Para personel dua tim dari Untidar foto bersama usai mengikuti ajang FFMI 2019 di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung dengan hasil tembus 20 besar. (Foto suaramerdeka.com/dokumen)

MAGELANG, suaramerdeka.com – Dua tim dari Universitas Tidar (Untidar) harus puas hanya sampai 20 besar di ajang Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) tahun 2019. Namun, mereka patut bersyukur dapat lolos ke tahap kedua di lomba yang diadakan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan itu.

Dua tim tersebut membawa film berjudul Ramah dan Juang. Keduanya harus berjuang melawan 132 judul film lainnya yang datang dari berbagai universitas di Indonesia. Para peserta harus melewati tiga tahap seleksi, yakni tahap 1 diambil 60 besar dan tahap 2 diambil 20 besar.

“Tentunya kami sangat bersyukur bisa masuk 20 besar. Meski tidak sampai ke nominasi, tapi kami tidak pernah menyangka bisa lolos, karena persaingannya berat,” ujar Ketua Tim Film Ramah, Achmad Choirul di kampusnya, Kamis (1/8).

Dia mengatakan, 20 peserta yang dinyatakan lolos tahap 2 diminta mempresentasikan karya filmnya di hadapan dewan juri skala nasional sebagai penentuan nominasi. Presentasi dilaksanakan di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung, 19 Juli lalu.

“Film Ramah bercerita tentan kehidupan seorang anak dan bapak yang dalam kesehariannya mengamalkan sikap cerminan wajah Indonesia. Si bapak ingin anak perempuan satu-satunya itu mengerti mengenai Indonesia yang ramah. Hingga suatu saat apa yang mereka amalkan diuji dengan cobaan,” katanya.

Senada disampaikan Ketua Tim Film Juang, Ahmad Maulana Gufar bahwa, timnya tidak menyangka lolos sampai 20 besar. “Bangga sekali, karena dengan peralatan dan sumber daya manusia yang seadanya, kami bisa sampai ke Lampung,” tuturnya.

Ahmad menjelaskan, film Juang dibuat untuk menanamkan sikap toleransi. Penggambaran sikap toleransi itu melalui kehidupan ojek online. Menurutnya sikap toleransi bisa dipupuk dari hal sekecil apapun, termasuk sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sekarang, yaitu ojek online.

“Selain mempresentasikan film yang dibuat, kami juga dibekali ilmu tentang film, di antaranya penyutradaraan, kamera, editing, dan bisnis film. Sangat asyik mendapatkan kesempatan ini dan diharap tahun depan kami dapat berkarya lebih baik lagi,” jelasnya.

Dia menyebutkan, ajang FFMI 2019 memunculkan pemenang dari beberapa kategori. Seperti di antaranya aktris terbaik diraih Gracyana Seran dengan judul film Salam dari Universitas timor. Sementara aktor terbaik jatuh kepada Aditya Sendika dengan judul film Pesawat Kertas dari ISI Padang Panjang.

Lalu sutradara terbaik dimenangkan Candra M Wisnu dengan judul Meja Makan dari Universitas Dian Nusawantoro. Adapun film terbaik jatuh kepada film berjudul Salam dari Universitas Timor.


(Asef Amani/CN19/SM Network)