• KANAL BERITA

Kali Ini Prambanan Memberi Energi Yanni

Penampilan Yanni dalam Prambanan Jazz 2019. (suaramerdeka.com/dok)
Penampilan Yanni dalam Prambanan Jazz 2019. (suaramerdeka.com/dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Taruhlah orang menonton konser Yanni cukup hanya dengan menutup mata saja, yang terbayang di kepala adalah sebuah permainan musik yang pejal, teknis, bernas tapi tetap mengalir riang dan kadang kadang sepi, di tengah keanggunan situs purbakala sebagai latar sebagaimana ciri setiap konser musikus berdarah Yunani ini. Setelah Acropolis (Yunani), Taj Mahal (India), Forbidden City (Tiongkok), Toji (Jepang), Acapulco (Meksiko), dan beberapa yang lain, kali ini Candi Prambananan (Indonesia).

Meski sebenarnya Yanni bukan yang pertama memanfaatkan situs purbakala sebagai ruang ekspresi. Karena jauh sebelumnya sejak tahun 60-an, sejak era Soekarno,  Prambanan sebagai medium kesenian telah dilakukan oleh seniman-seniman tari pilihan dengan pergelaran Sendratari Ramayana setiap tiba bulan purnama.

Saat Yanni tampil di Prambanan Jazz 2010, Sabtu (6/7) malam, keanggunan beberapa candi di komplek Prambanan Jogjakarta telah menyuplai energi bagi permainan Yanni untuk mengenang momentum 25th Anniversary Acroplis, yang menjadi tonggak sejarah perjalanan musikal dari John Yanni Christopher atau Gianiss Chrysomallis (nama asli Yanni).

Beruntungnya penonton Prambanan jazz yang digelar Rajawali Indonesia-TWC untuk kelima kalinya itu, mendapatkan tontonan bergizi. Terlebih lagi karena Yanni membawa sebagian besar dari musisi originalnya. Meski bukan dalam format orkestra, dan cukup hanya big band, dan Yanni mampu menghadirkan nuansa orkestral. Sebanyak 22 nomor instrumental dibawakan dengan ragam nuansa musik.  

Di banyak penampilan, Yanni menggunakan pemain yang berbeda-beda dan berasal dari banyak negara. Namum yang diboyong ke Indonesia bisa jadi menjadi formasi murni yang selama paling dibawa Yanni. Dalam pertunjukan, ternyata ia tidak membutuhkan aktrakivitas sebagaimana penampil musik dalam sebuah konser. Performa sebagai bentuk atraksi hanya ditampilkan oleh semua pemain yang diberi ruang setidaknya untuk bermain secara solo pada masing-masing alat musiknya. Menempati panggung dengan dua level tersusun seolah menyerahkan semua sepenuhnya untuk Yanni sebagai bintang.

Bukan Orkestra

Formasinya yang diboyong Yani ke Jogjakarta memang bukan orkestra, tapi sebentuk big band, dengan susunan tiga biola (dimainkan Samvel Yervinyan, Lindsay Dautsch, Johannes Bryden), cello gesek (Alexander Zhiroff, Sarah O'Brien), trombon (Dana Taboe), trumpet (Jason Carder), drums (Charles Adams), bas (Gabriel Vivas), perkusi (Yoel De Sol), dan kibor (Ming Freeman), vokal (Laurent Jelencofich).

Sedangkan ruh musik tetap pada Yanni yang berganti posisi sebagai pemain kibor dan grand piano. Permainan Ming Freeman yang memberi aksentuasi orkestra juga tidak bisa disepelekan. Yanni dan Feeman adalah sinergi luar biasa pada keseluruhan komposisi. Mengeksplo kemampuan solo Freeman pada nomor "For All Season", "Acroyali", "Desire", atau "Swept Away" pada nomor yang disebut terakir itu bertandem dengan Yoel De Sol (perkusi).

Nomor "Nightingale" yang berwarna oriental itu betul-betul mengeksplor kemampuan vokal Laurent dengan vokal bercengkok oriental ditingkah permainan piano Yanni. Setiap bagian dari repertoar tampaknya diperhatikan Yanni dengan detil, menematkan encore yang terdiri dari bagian lagu sehingga membutuhkan waktu 20 menit. Puncak encore adalah nomor "The Storm" yang nampak eksplorasi bunyi-bunyian artifisial.
 
Betul kata Habib Luthfi bin Yahya ulama sufi asal Pekalongan yang hadir meyaksikan idolanya. "Bagi yang seneng musik, tentu musik beliau ini sungguh luar biasa. Patut kita banyak belajar. Saya mengagumi beliau selaku pembaharu dalam dunia musik, yang bisa mengombinasikan musik dari banyak negara dalam aransemen. Beliau bisa mengambil musik ada dari Yunani, Timur Tengah, China," kata Habib Luthfi bin Yahya.


(Bambang Isti/CN40/SM Network)