• KANAL BERITA

Puisi Itu Memang Mengada-ada

Ngabuburit Puisi menghadirkan Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) dan Heru Mugiarso serta moderator Guspar Wong yang membedah buku puisi karya Dharmadi dan Indri Yuswandari. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)
Ngabuburit Puisi menghadirkan Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) dan Heru Mugiarso serta moderator Guspar Wong yang membedah buku puisi karya Dharmadi dan Indri Yuswandari. (suaramerdeka.com/Nugroho Wahyu Utomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Suka atau tidak suka terhadap karya puisi adalah hal wajar. Namun bagi yang tidak suka, hendaknya mampu mempertanggungjawabkan sikapnya tentang ketidaksukaan itu. Serta jangan mengada-ada, walau pun puisi itu sendiri aslinya ya mengada-ada.

Hal itu disampaikan oleh Gunawan Budi Susanto atau akrab disapa Kang Putu dalam Ngabuburit Puisi yang berlangsung di Balai Bahasa Jawa Tengah, Senin (20/5). Dalam Ngabuburit Puisi itu, Kang Putu membedah puisi-puisi karya Indri Yuswandari yang terangkum dalam buku Teka teki Catatan Kaki.

Dalam uraiannya, Kang Putu menyukai tiga puisi karya penyair wanita yang kini tinggal di Kendal itu. Tiga karya puisi dari 75 puisi di  buku tersebut yang disukainya adalah: Ziarah, Kepada Senyap, dan Ajakan. "Namun bukan berarti 72 puisi lainnya jelek. Saya suka karena karya puisinya tidak menyajikan akrobatik bahasa, dan sederhana sekali," terangnya.

Sementara Heru Mugiarso ketika membahas karya puisi milik Dharmadi dalam buku karya Dharmadi berjudul Pejalan, menilai karya puisi itu tak perlu dipertanyakan maknanya. Namun dirasakan selayaknya menatap lukisan. "Puisi-puisi karya Dharmadi ini ibarat pendulum yang bergerak ke segala arah. Jika tengah mengkritik sosial, Dharmadi tak seperti Wiji Tukul yang frontal. Selain itu gaya bahasa yang digunakan Dharmadi masih menggunakan gaya bahasa saat dia masih muda. Menurut saya, wajar jika penyair tidak mengikuti perkembangan atau percepatan bahasa. Semua kembali ke penyair masing-masing," pungkasnya.


(Nugroho Wahyu Utomo/CN40/SM Network)