• KANAL BERITA

Dakwah Versi Nasida Ria

Nasida Ria setelah tampil di acara Synchronize 2018 bersama Triawan Munaf BEKRAF, Jurnalis, Adib Hidayat dan Leo Ruru. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Nasida Ria setelah tampil di acara Synchronize 2018 bersama Triawan Munaf BEKRAF, Jurnalis, Adib Hidayat dan Leo Ruru. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Nasida Ria merupakan kelompok musik kasidah yang beranggotakan sejumlah perempuan. Grup yang terbentuk sejak 1975 di Semarang itu membawakan lagu-lagu yang menyampaikan pesan kebaikan dalam liriknya.

Lirik-lirik lagu Nasida Ria banyak yang berbicara tentang lingkungan dan kondisi sosial. Lagu-lagu mereka kebanyakan ditulis oleh (almarhum) KH Ahmad Bukhori Masruri yang lebih dikenal dengan Abu Ali Haidar.

Lagu-lagu berserta lirik sebagian besar diambil dari Al Quran seperti Perdamaian, Lingkungan Hidup itu mengingatkan pendengarnya untuk berbuat kebajikan. Lagu-lagu tersebut menyampaikan pesan-pesan 'dakwah' versi Nasida Ria.

Dalam lirik lagu Perdamaian misalnya, tertuang pesan kepada pendengarnya untuk menjaga perdamaian. Manusia tak perlu berperang dan lebih baik berbuat kebaikan untuk sesama.

Kemudian ada juga lagu Kota Santri yang menggambarkan suasana pesantren tempat dimana para santri menuntut ilmu. serta lagu Keadilan yang mengajarkan manusia agar adil dan bijak dalam menilai sesuatu tanpa pandang bulu.

"Harapannya, anak muda bisa mencermati pesan apa yang disampaikan dalam lirik lagu. Tidak hanya menikmati musiknya saja," ujar pemilik sekaligus pemimpin Nasida Ria, Cholik Zain saat ditemui suaramerdeka.com di warung Soto Ayam Nasida Ria, di Jalan Raya Tugu, Semarang, Kamis (16/5).

Pada lagu Kampret yang berjudul asli Wajah nan Ayu misalnya. Dalam lirik tersebut disisipkan pesan kepada para perempuan agar jangan gegabah dalam memilih laki-laki. Hal itu sesuai dengan kondisi zaman milenial sekarang.

"Sedangkan bagi laki-laki agar tidak mencederai wanita," ungkap dia.

Nasida Ria bisa dibilang merupakan grup kasidah yang unik. Selain menyisipkan pesan dakwah, lagu-lagu Nasida Ria juga berbau futuristik. Seperti contoh lagu Lingkungan Hidup, Bom Nuklir hingga Jangan Jual Ginjalmu. Rata-rata lagu tersebut diciptakan pada tahun 1980-an namun sampai sekarang masih relevan.

"Saat ini sudah sekitar 400an lagu regulernya dari 35 Album. Di luar itu ada Arabic Song dan lain-lain," terang dia.

Suami Atik Sutarti (50) itu bercerita, grup Nasida Ria mulanya didirikan oleh H Muhammad Zain pimpinan Hj Mudrikah Zain. Ayah Cholic (H Muhammad Zain) dulu muadzin Masjid Kauman Semarang. Setiap hari Muhammad Zain mendidik santrinya menjadi qori di asrama miliknya.

Setelah berkembang pesat, Muhammad Zain yang menyediakan jasa sewa speaker corong (sound sistem zaman dulu) kemudian membelikan alat musik seperti band untuk para santri. Genre arabik hindi atau biasa disebut dengan gambusan irama padang pasir pun dipilih. Personelnya berasal dari santri di asrama Nasida Ria.

"Awal mula 1980an, album pertama hingga keempat tidak begitu booming. Baru pada album ke 5 mulai terkenal dan album sebelumnya ikut terkenal," kisah dia.

Personil Nasida Ria berjumlah 12 yang memegang bass, gitar, keyboard arabic, keyboard diatonis, kendang, suling dua biola, dan tamborin. Kemudian yang unik setiap personil bergantian menjadi vokal.

Mereka memiliki lima putera, dua di antaranya yakni Khadik Zain memiliki grup kasidah bernama Nida Ria. Sedangkan Fella Suffah Zain mendirikan El Hawa. Cholic Zain sendiri merupakan generasi kedua akhirnya menjadi pemimpin grup kasidah legendari Nasida Ria.  

Salah satu putri Cholic Zain sendiri yang bernama Nazla Zain juga menjadi vokalis dalam grup Nasida Ria. Sedang putri keduanya yakni Ifada Zain masih mondok di Pondok Assalam Solo.

Saat ini, Cholic Zain membentuk grup kasidah Ezzura. Grup tersebut didirikan sebagai wadah regenerasi Nasida Ria.

"Generasi selanjutnya, terus kami godok. Sejak dulu, sistemnya berjenjang, naik kelas. Kalau sudah matang, masuk ke Nasida Ria," jelas dia.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN40/SM Network)