• KANAL BERITA

Pusbangfilm Gelar Lagi Lomba Penulisan Kritik Film dan Artikel Perfilman

foto: istimewa
foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Dalam rangka Apresiasi Film Indonesia 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan via Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) akan kembali mengadakan Lomba Penulisan Kritik Film, dan Artikel Perfilman 2019.

Ketentuan Umum Naskah yang dilombakan merupakan karya asli dan bukan hasil plagiat dalam bentuk apa pun.  

Peserta, baik untuk Umum maupun wartawan film,  dapat mengirimkan softcopy naskah beserta bukti pemuatannya ke alamat email Pusbang Film Kemendikbud,Lombakritikfilm2019@kemdikbud.go.id dengan subjek "Lomba Kritik Film" untuk Lomba Penulisan Kritik, "Lomba Artikel Perfilman" untuk Lomba Penulisan Artikel Perfilman.

 Naskah dapat juga dikirim melalui pos ke alamat Pusat Pengembangan Perfilman, Kompleks Kemendikbud gedung C lantai 18, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta dengan menuliskan masing-masing subjek lomba di pojok kanan atas map/amplop/dokumen.

Naskah harus sudah diterima panitia selambat-lambatnya pada 15 September 2019 pukul 00.00 WIB. Dengan melampirkan identitas diri: nama, alamat tempat tinggal, alamat e-mail. Nomor telepon/HP, serta fotocopy/scan KTP/SIM/Kartu Pers/Paspor.

Hak cipta seluruh peserta menjadi milik Pusbang Film Kemendikbud RI.Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

Sebagaimana dijelaskan M. Sanggupri M Hum, Kabid Apresiasi dan Tenaga Perfilman, Pusbangfilm,  Lomba Penulisan Kritik Film, dan Artikel Perfilman 2019, terbuka untuk masyarakat umum, termasuk wartawan dan budayawan.

Kritik film berdasarkan salah satu karya film nasional Indonesia yang telah ditayangkan di bioskop Indonesia dalam periode 1 Oktober 2018 s.d 31 Agustus 2019.

Naskah yang diikutsertakan dalam lomba harus sudah pernah dimuat atau disiarkan di salah satu media pers cetak atau daring (online) dalam periode 1 Oktober 2018 s.d 15 September 2019.

Peserta harus mengirimkan sekurang-kurangnya 2 (dua) karya kritik film yang berbeda dan dapat mengirimkan karya kritik film sebanyak-banyaknya.

"Penulisan kritik film di media-media massa, kami nilai turut berperan dalam meningkatkan kualitas perfilman nasional," kata M. Sanggupri di Pusbangfilm, Jakarta,  barubaru ini.

Dia menambahkan, kritik film bisa membuat kreatornya berinteraksi dengan pengkritik dan penonton filmnya.

"Tanpa kritik film, tidak ada penimbang kualitas sebuah film. Seperti sayur tanpa garam. Tanpa kritik, film menjadi tidak ada rasanya,  jadi hambar," imbuh dia.

M. Sanggupri menggarisbawahi,  kesalahan mendasar pada hampir semua peserta kategori Kritik Film, dan Artikel Film di tahun 2018, diharapkan tidak terjadi di lomba tahun ini.  

Yaitu penggunaan bahasa Indonesia yang masih buruk, serta terlalu banyaknya penggunaan bahasa asing, yang tidak pada tempatnya.
"Apalagi menggunakan bahasa milenial, tanpa pemahaman bahasa Indonesia yang memadai," tekannya.

Selain itu. Beberapa catatan dewan juri Lomba Penulisan Kritik Film, dan Artikel Perfilman 2018, sepertii inkonsistensi pilihan topik artikel dengan pembahasannya.  Kemalasan penulis untuk mengupdate  (memperbarui) bahan dan data untuk menguatkan argumentasi analisisnya.  

Juga dukungan data yang kurang memadai, untuk tidak mengatakan amat lemah. Serta naskah peserta didominasi kutipan- kutipan berbagai nara sumber yang terkadang kurang relevan dengan topik bahasan, tidak terjadi di lomba tahun 2019 ini.


(Benny Benke/CN40/SM Network)