• KANAL BERITA

Mahasiswa USM Lestarikan dan Kembangkan Naskah Kebudayaan Budha

Raih Anugerah Pustaka Nusantara 2018

Mahasiswa USM Gusti Ayu Rus Kartiko (kanan) menerima penghargaan Anugerah Pustaka Nusantara 2018 dari Direktur Deposit Bahan Pustaka Perpusnas, Lucya Dhamayanti (tengah). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
Mahasiswa USM Gusti Ayu Rus Kartiko (kanan) menerima penghargaan Anugerah Pustaka Nusantara 2018 dari Direktur Deposit Bahan Pustaka Perpusnas, Lucya Dhamayanti (tengah). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Tak banyak anak muda yang memiliki komitmen kuat untuk melestarikan budaya nusantara. Hanya mereka yang memiliki kemauan serta meluangkan waktunyalah, pada akhirnya bisa eksis dan mampu berprestasi. Salah satunya, Gusti Ayu Rus Kartiko, mahasiswa semester dua Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM). Berkat tulisannya, Desa Rahtawu, Jejak Petilasan Wiku Jnanabadra, wanita berusia 29 tahun ini mampu meraih penghargaan tertinggi dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yakni Anugerah Pustaka Nusantara 2018. Pada awalnya, Gusti tak mengira akan bisa mendapatkan penghargaan ini.

Ketertarikannya menulis karya budaya, terutama berkaitan dengan kebudayaan Budha di Indonesia ini nyatanya bukan hanya bermanfaat bagi umat sesama agamanya tapi juga membuahkan prestasi. Sebagaimana diketahui, Desa Rahtawu yang berlokasi Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus inilah tiga pelestari pendahulu yang telah tiada itu pernah mempopulerkan karya sastra Badra Santi, yakni Bhikkhu Khemasarano, Pandita Raden Panji T Hadi Darsana, serta Pandita Ramadharma S Reksowardojo. Gusti melalui tulisannya mencoba menelusuri jejak Carita Lasem dan Badra Santi, serta Punden Tapaan Mpu Santi Badra. Upaya pelestarian budaya itu atas izin putra pertama Panji T Hadidarsana, yakni Raden Panji Winarno.

''Sejak meninggalnya tiga pelestari pendahulu, naskah karya sastra Badra Santi itu nyaris tak dikenal agama Budha,'' tandas Gusti, Ketua Badra Santi  Institute yang tinggal di Jl Semeru Barat, Semarang, Rabu (15/8).

Penghargaan itu sendiri diserahkan Direktur Deposit Bahan Pustaka Perpusnas, Lucya Dhamayanti di gedung Perpusnas di Jakarta, Kamis (26/7) lalu.

''Awalnya upaya (pelestarian) yang saya lakukan itu diusulkan Badan Pelestari Pustaka Indonesia atau BPPI. Saya diminta mengirimkan dokumentasi seperti foto, video terkait pelestarian budaya, termasuk kajian teks, dan publikasi dari media massa,'' jelas Gusti.

Di sisi lain, aktivis Majelis Agama Budha Teravada Indonesia di Jateng, Dhammatejo Wahyudi menegaskan, Gusti ini memulai kegiatan pelestariannya dengan merujuk gagasan dari Prof Dr CA Van Peursen tentang Strategi Kebudayaan. ''Ini adalah langkah yang menggali nilai-nilai mitologis dari sebuah cerita atau naskah. Kemudian diupayakan berfungsi kembali, sebagai perangkat kebudayaan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pemeluk Buddhis,'' tandas Wahyudi, tak lain kakak Gusti tersebut.

Selanjutnya, ia mengupayakan penelusuran kajian penerjemahan dan menghidupkan sastra seni Badra Santi. Seperti halnya, penyusunan notasi dan rekaman gending, koreografi seni tari, hingga penerjemahan dan penerbitan ulang naskah.

Mengenai pengembangan gending dan seni tari, hal itu dapat terwujud atas dukungan penuh Dr Widodo Brotosejati, akademisi dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes).


(Royce Wijaya/CN40/SM Network)