• KANAL BERITA

Bre Redana: Film Indonesia Masih Miskin Gagasan

Bre Redana.  (suaramerdeka.com/Benny Benke)
Bre Redana. (suaramerdeka.com/Benny Benke)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sejak media cetak bermutasi ke media digital, seketika membuat semua orang Indonesia telah menjadi kritikus film dadakan. Hal yang sama terjadi di lapangan hijau. Di pertandingan bola, seluruh penonton di stadion adalah kritikus bola.

"Inilah era bernama berarkhirnya era kepakaran, the death of expertise," kata Bre Redana, Kamis (18/7), saat memaparkan pemikirannya berjudul Kritik Film dalam Sejarah Film Indonesia di hotel Gammara, Makassar.

Mantan editor media terkenal itu menambahkan, kritik film sepatutnya menempatkan film seperti produk kebudayaan. Hal yang sama semestinya terjadi dan berlaku dalam dunia sepakbola.  

"Karena apa? Siaran langsung atau real time telah terjadi dalam lapangan sepak bola. Saat siaran langsung belum ada, setiap ada Piala Dunia, media cetak oplahnya dinaikkan 100 ribu eksemplar. Karena orang butuh informasi yang tidak mereka dapatkan karena belum ada siarsn langsung. Sekarang....,Nggak ngefek, oplah segitu aja. Karena semua orang nonton bola secara live, dan kritikus bola sekaligus," terang Bre.

Dia melanjutkan, reportase sepakbola yang lebih "dalam" akan dibaca dan dicari sendirinya oleh pembaca. Tapi hal itu tidak terjadi, jika tulisan sekadar bercerita tentang review sepakbola.

"Hal yang sama terjadi dalam dunia film. Kalau kita hanya mereview, tidak akan dibaca.  Tapi jika menulis dalam dan tajam tentang kritik film, akan lain yang terjadi," kata Bre.

Apalagi dewasa ini, katanya lagi, film Indonesia banyak cacatnya. Dari cacat yang paling mendasar, yaitu rasionalitas, sampai miskin gagasan. Seperti film Pengantin Ramaja (1971) sama dengan film Love Story (1970) dari Hollywood. Dari pengadeganan sampai musiknya. Kedua film itu sama persis.

"Siapa meniru siapa, anda tahu jawabannya,"  kata Bre, di depan 40 peserta Semiloka Penulisan Kritik Film Tingkat Lanjutan, di Makassar,18-20 Juli 20018.

Demikian halnya dengan film Indonesia masa kini. Menurut Bre masih cacat logika dan miskin gagasan.

Lalu, apakah film Indonesia masa kini mencerminkan kebudayaan Indonesia? "Saya ragu. Sebagaimana orang Korea mengatakan, K-Pop is not really Korea. Karena wajah penyanyi Korea aslinya tidak seperti itu. Itu paras mereka uda divermak semua. Dan liriknya, juga musik apalagi fashion nya bukan Korea banget. Tapi hip hop dan Hollywood banget," ujar Bre.

Acara yang diinisiasi Pokja Kritik Film dan PusbangFilm, Kemendikbud itu, menghadirkan sejumlah pembicara lainnya selain Bre Redana. Yaitu Niniek L Karim,  Nurman Hakim, Tommy F. Awuy, Wina Armada, Ilham Bintang dan Prof David Hanan.

Menurut Wina Armada, Ketua Pokja Kritik Film, Semiloka Penulisan Kritik Film Tingkat Lanjutan tahun ini, merupakan kesinambungan acara serupa seperti tahun lalu.  "Setelah Makassar, kami akan mengadakan hal seperti ini di Bandung, Searang, dan Padang," katanya.

Dia menambahkan, dengan semiloka semacam ini, diharapkan pemahaman peserta atas kritik film yang sepatutnya semakin memadai. Turunannya, kritikannnya menjadi lebih berkualitas.

 


(Benny Benke/CN40/SM Network)