• KANAL BERITA

Roman D Man, Tunjukkan Identitas Bangsa Lewat Batik

Roman D. Man. Dari Pekalongan Untuk Indonesia. (suaramerdeka.com/dok)
Roman D. Man. Dari Pekalongan Untuk Indonesia. (suaramerdeka.com/dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com  -- Aktor Roman D Man merasa beruntung lahir dan dibesarkan di Pekalongan. Kota yang menurutnya memiliki kekhasan budaya yang terwariskan, khususnya batik. Itulah yang menguatkan dia, untuk terus mengenalkan batik sebagai warisan budaya leluhur. 

“Tunjukkan identitas kita sebagai bangsa dengan karya batik,” tegasnya, di rumah batik yang dikelolanya, di kawasan Cibubur, Jakarta, Selasa (17/7) 

Selain produk ekonomis, menurut aktor film yang lahir di Desa Salit Pekalongan, 7 Juli 1993 ini, batik juga merupakan seni dan filsafat. “Sebagian masyarakat masih memahami batik hanya sebagai komoditas fashion. Padahal seni membatik melalui proses panjang dan memiliki cita rasa estetika dan makna filosofi,” ujarnya.

 Membatik, menurutnya, butuh ketekunan, ketelitian dan kesabaran. “Kurang tekun, terburu-buru; tidak sabar, dan kurang teliti, adalah sisi manusiawi kita. Karenanya seni membantik secara filosofis dapat menjadi acuan cara hidup kita ke arah yang lebih baik,” ujar aktor yang pernah membintangi film ‘Tears of Ghost’ ini. 

Metropolitan Jakarta, bagi Roman, adalah kawah candradimuka tempat penggemblengan diri agar memiliki pribadi yang kuat dan berkarakter. Itu sebabnya setelah berbagai fase perjuangan hidup yang dilalui, ia berniat pulang kembali ke asal membangun desa. 

“Jakarta itu kampung besar; desa global. Warganya multi etnik. Tidak saja orang Indonesia, tapi juga banyak orang asing dari berbagai bangsa. Keragaman ini setidaknya bisa menjadi studi dan referensi ilmu sosial, yang akan saya jadikan modal membangun kampung halaman,” ujarnya. 

Belakangan Roman kerap mondar-mandir Jakarta – Pekalongan, dan memfokuskan usahanya di bidang, musik, film, dan seni kerajinan, khususnya Batik Pekalongan. Dari apa yang diusahakannya, Roman menyisihkan sebagian rezekinya untuk disumbangkan kepada para dhua’fa serta membantu program peduli anak bangsa. 

Ada beberapa program yang sudah dilakukan di Jakarta, ingin Roman implementasikan di kampung. Melalui Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH) misalnya, Roman melakukan acara ‘Jum’at Berkah’dengan aksi ‘Bank Nasko’ (Nasi Kotak). Membagikan nasi kotak keliling (Bank Nasi Kotak) untuk para pemulung, anak jalanan, tukang becak, dan tukang ojek. Menyelenggarakan kegiatan sosial lainnya, seperti menyantuni warga kurang mampu; kaum dhua’fa, dan janda lanjut usia. 

“Kalau di Pekalongan, saya ingin mendorong dan mengembangkan semangat kewirausahaan generasi muda. Saya merasa banyak potensi, ide-ide kreatif untuk memulai bisnis yang belum dieksplorasi secara optimal. Hal ini tentu sejalan dengan industri kreatif yang sudah menjadi core businessyang saya kelola,” ujarnya. 

Roman mengawali karirnya di industri hiburan dengan mencoba keberuntungan menjadi pemain sinetron, diantaranya dalam sinetron ‘Tendangan Si Madun’ (MNCTV),produksi MD Entertainment, dan 'Tukang Bubur Naik Haji’ (RCTI). Tak lama kemudian ia dilamar PT Tobali Putra Film untuk membintangi film ’4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu’ dan film ‘Kuntilanak Ciliwung’. 

 


(Benny Benke/CN40/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar