• KANAL BERITA

Eksplorasi Tanpa Nada dari Distorsi Cadas Hingga Kejernihan Musik Kontemplasi

Foto: dok. Tanpa Nada
Foto: dok. Tanpa Nada

EKSPRESI – Grup musik asal Semarang, Tanpa Nada meluncurkan karya baru berupa video musik berjudul "Bertapa" pada 26 Juni, lalu. Kelompok musik yang berdiri pada 2009 tersebut selama ini banyak melakukan eksplorasi musik dan sastra puisi. “Bertapa” meramu irama musik dan lantunan. Mengeksplorasi bebunyian misterius dan gaya bahasa puisi yang terbilang abstrak diatas 166 beats per minute dan titian 4 menit 38 detik.

Karya ini hadir setelah sebelumnya meluncurkan album secara daring pada 10 Desember 2017 bertajuk Diorama Kakofoni.

Kelompok yang digawangi Erick (vokal), Fajar “Cepot” Leksono (vokal), Aristyakuver (etnik), Lutfi Firmansyah (Gitar/Vokal), Adi “Kempul” Prasetyo (gitar), Samid (bass), dan Lazuardy “Ambon” Inu (drum), memperlakukan puisi dalam konteks lirik.

“Bagi kami, nada merupakan aliran, yang muncul dari setiap kata dengan bentuk suaranya. Kuncup tersebut kemudian merekah dan kami tangkap sebagai irama. Muncul kolaborasi dari kata, bunyi, hingga olah digital,” kata salah satu personel Tanpanada, Aristyakuver

Dikatakannya, hasil olahan musik tersebut dirangkai di Studio Musik 4WD, Jalan Soekarno-Hatta, Pedurungan, Semarang.

“Kami percayakan cita rasa tata suara Sound Engineer, Hamzah Kusbiyanto, yang menangani album kami,” repet Aris.

Di karya-karya terdahulu, musik mereka dikenal sarat akan distori serta teriakan cadas. Tetapi kali ini mereka memilih memasukkan suara akustik di bagian awal lagunya.

“Kami anggap akustik merupakan kejernihan. Alat tiup dari Jepang, Shakuhachi melengkapinya. Seruling itu, dalam konsepnya, mempunyai lantunan yang bersinergi dengan air. Aliran yang jernih,” kata Aris.

Memasuki menit 2.05, alat musik tradisional bernama Karinding khas Jawa Barat dan Genggong khas Bali menjadi latar deklamasi puisi. Alat musik tradisi persawahan ini membentuk ruang kontemplasi yang dalam.

“Lagu Bertapa bagi kami mewakili proses kontemplasi dalam kejernihan diri. Seperti sebuah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Mulai lahir, tua, hingga mati,” katanya.

Mengenai pesan apa yang hendak disampaikan, Aris mempersilahkan setiap penikmat karya untuk menyelaminya.

Sedangkan penggarapan video klip, ditangan Tri Setio Anggoro (@anggagemb) dan Panji Rochmat Aprizal (@julpanji), lagu “Bertapa” memiliki cerita berbeda. Video klip menampilkan aktor Kidung Paramadita dan Aristya Kusuma Verdana. Pembuatannya dilakukan di beberapa tempat yakni di Hutan Tinjomoyo, Kota Lama, dan Taman Budaya Raden Saleh.

“Memang membawa konsep warna hitam dan putih. Kami mencoba menampilkan gerak tubuh berselaras dengan alunan alam. Manusia, hidup di realitas dalam dirinya dan di luar dirinya. Alam, sosial, serta budaya. Kesadaran untuk hidup agar lebih hidup,” imbuh Aris.

Bagi yang sudah mulai penasaran dengan kekuatan lirik “Bertapa” kalian bisa mendapatkannya sekarang juga melalui kanal Youtube Tanpa Nada.


(Imam Supriono/CN42/SM Network)