Harga Beras Tinggi, Tarif Impor dan Pembatasan Kuantitatif Ikut Memperburuk

- Kamis, 19 Agustus 2021 | 09:00 WIB
Beras Bulog (suaramerdeka.com/Cun Cahya)
Beras Bulog (suaramerdeka.com/Cun Cahya)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Tingginya harga beras, salah satunya, diperburuk tarif impor dan pembatasan kuantitatif yang dikenakan pada beras.

Tarif Rp 450 / kilogram diberlakukan untuk semua jenis beras impor, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/2017.

Selanjutnya, Undang-Undang Pangan Nomor 18/2012 memprioritaskan pengembangan produksi tanaman pangan domestik.

Undang-undang tersebut menekankan pada larangan impor jika produksi dalam negeri cukup untuk memenuhi permintaan.

Baca Juga: Swab Antigen Akan Menjadi Rutinitas, Abbott Panbio Antigen Nasal Banyak Digunakan

"Dengan demikian, impor hanya berlaku ketika permintaan domestik melebihi penawaran terbatas. Peraturan ini dimaksudkan untuk melindungi produsen dalam negeri dari pasar internasional dan untuk mencegah mereka menerima harga rendah untuk tanaman mereka," kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan.

Selain pembatasan tarif dan kuantitatif, impor beras juga dihadapkan pada proses yang panjang.

Pemerintah telah menunjuk Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai importir tunggal beras kualitas sedang, yang memberi mereka monopoli atas komoditas tersebut.

Dengan demikian, keputusan untuk mengimpor beras hanya dapat dilakukan setelah kesepakatan dicapai melalui rapat koordinasi antara beberapa kementerian di Indonesia.

Baca Juga: UKM PIB USM Gelar Pelatihan Kepemimpinan Pancasila, 433 Peserta Ambil Bagian

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BSN Bikin Etalase Digital Produk UKM Ber-SNI

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:25 WIB

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB
X