Surplus Neraca Perdagangan Indonesia – Swiss Semester Pertama 2021 Capai Lebih dari 10 Triliun Rupiah

- Minggu, 15 Agustus 2021 | 18:25 WIB
Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad, mendampingi Wamendag RI, Jerry Sambuaga kunjungi toko barang-barang UMKM Indonesia di Swiss, yang menjual produk UMKM, batik dan home decor Indonesia pada April 2021. Kunjungan dimaksud merupakan bentuk dukungan terhadap produk UMKM Indonesia di Swiss (Sumber: KBRI Bern)
Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad, mendampingi Wamendag RI, Jerry Sambuaga kunjungi toko barang-barang UMKM Indonesia di Swiss, yang menjual produk UMKM, batik dan home decor Indonesia pada April 2021. Kunjungan dimaksud merupakan bentuk dukungan terhadap produk UMKM Indonesia di Swiss (Sumber: KBRI Bern)

BERN, suaramerdeka.com – Indonesia capai surplus neraca perdagangan terhadap Swiss di semester pertama (Januari - Juni 2021), yakni sebesar USD 715,34 juta atau Rp 10,37 triliun. Terjadi peningkatan nilai ekspor Indonesia ke Swiss pada hampir semua komoditas ekspor utama, kecuali untuk logam mulia, perhiasan/permata (HS71).​​

Ekspor logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) mengalami penurunan yang cukup signifikan dari USD 1,04 miliar pada semester I-2020 menjadi USD 665,97 juta pada periode yang sama tahun ini.

Penurunan ini mengakibatkan surplus neraca perdagangan Indonesia-Swiss mengalami penurunan dari Rp. 13.03 triliun pada semester 1-2020 menjadi Rp. 10.37 triliun pada periode yang sama tahun 2021.

Baca Juga: Jadi Pemain Kunci, Indonesia Ajukan Calon untuk Mengisi Jabatan Sekjen Colombo Plan

Namun demikian, peningkatan cukup signifikan terjadi pada komoditas minyak atsiri, furniture (mebel), produk tekstil rajutan dan alas kaki. Masing masing sebesar 36%, 22%, 17%, dan 15%.

 Sepuluh komoditas ekspor utama Indonesia ke Swiss berdasarkan urutan nilai ekspor nya, yakni logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), alas kaki (HS 64), produk tekstil bukan rajutan (HS 62), produk tekstil rajutan (HS 61), perlengkapan elektrik (HS 85), furnitur (HS 94), kopi (HS 0901), minyak atsiri (HS 3301.29), mesin turbin dan suku cadang (HS 84) serta kimia organik (HS 29). 

Situasi pandemi global berdampak cukup signifikan terhadap surplus perdagangan Indonesia-Swiss pada semester Itahun ini. Swiss melakukan pelonggaran (relaksasi) kebijakan pembatasan kegiatan ekonomi/sosial sejak tanggal 26 Juni 2021.

Kementerian Koordinator Perekonomian Swiss (SECO) menyatakan pelonggaran tersebut telah memicu pemulihan ekonomi yang lebih cepat. SECO memperkirakan PDB Swiss tahun 2021 meningkat 3,6% dari 3% perkiraannya di bulan Maret lalu.

Baca Juga: Menkominfo Siapkan Balai Uji Berstandar Internasional, SDM dan Tata Kelola Harus Relevan

Ekonomi swiss diharapkan akan memasuki wilayah pertumbuhan positif sampai dengan akhir tahun 2021, setelah pada triwulan 1-2021 mengalami pertumbuhan negatif 0.5%. Demikian juga, pertumbuhan ekonomi Swiss di tahun 2020 turun hingga -2,9%.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kelompok UKM di Sleman Didorong Bentuk Koperasi

Selasa, 26 Oktober 2021 | 15:01 WIB

Hendi Dukung UMKM Naik Kelas Lewat Desain Kemasan

Senin, 25 Oktober 2021 | 17:47 WIB
X