Berubahnya Transformasi Ekonomi Kapitalis Jadi Berkeadilan

- Sabtu, 24 November 2018 | 21:00 WIB
PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan GO-JEK  menawaarkan GO-FOOD Festival di Pasaraya Sri Ratu, Jalan Pemuda, Semarang. Pembeli yang bertransaksi non-tunai menggunakan GO-PAY bisa mendapatkan cashback hingga 50 persen. Penawaran ini berlangsung hingga setahun, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Dini Failasufa)
PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan GO-JEK menawaarkan GO-FOOD Festival di Pasaraya Sri Ratu, Jalan Pemuda, Semarang. Pembeli yang bertransaksi non-tunai menggunakan GO-PAY bisa mendapatkan cashback hingga 50 persen. Penawaran ini berlangsung hingga setahun, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Dini Failasufa)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pengamat Ekonomi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Andreas Lako mengatakan, revolusi industri 4.0 adalah transformasi dari 3.0. Sebuah transformasi ekonomi kapitalis menjadi ekonomi berbiaya rendah. Muaranya adalah ekonomi yang berkeadilan.

“Teknologi keuangan semakin luar biasa. Financial Technology (Fintech) tumbuh mulai lima tahun belakangan namun mulai berdampak besar pada 2015. Fintech sebagai pewujudan revolusi 4.0. Perekonomian kita itu sebetulnya tumbuh. Namun memang seolah-olah turun karena tidak menghasilkan pendapatan negara yang naik. Tapi sebetulnya ini ekonomi berkeadilan yang digerakkan industri kecil dan menengah,” jelasnya.

Dia berkata, fintech lah yang berperan menggeser ekonomi kapitalis. Dari pelaku ekonomi yang menginginkan keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya menjadi ekonomi yang berkeadilan. Dengan artian, perekonomian yang lebih baik banyak dinikmati ragam kalangan. Utamanya digerakkan kelas menengah.

“Dalam hal pengembangan UMKM, fintech berperan besar menggerakkan ekonomi. Mulai dari pelatihan dan pengembangan. Sudah menjadi kebutuhan bagi pelaku usaha bertransformasi ke transaksi digital. Fintech pun terus tumbuh dan menumbuhkan pelaku usaha yang mulai banyak pelakunya dari generasi muda,” jelasnya.

Efeknya, dia mencontohkan di Jateng, pertumbuhan jumlah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 40 persen. Kemudian 40 persen kelas menengah, sisanya 20 persen kalangan atas. Jumlah kelas menengah tumbuh karena transformasi ekonomi di era 4.0.

“Datanya kelompok menengah, pada 2014 pendapatnya dari 34 persen naik menjadi 39 persen di 2018. Sementara masyarakat kaya dari 47 persen turun menjadi 43 persen. Ini menunjukkan pertumbuhan kelas menengah begitu luar biasa. Nampaknya fintech menyasar kelas ini. Karena mereka mengggerakkan perekonomian. Sebuah kelompok yang menikmati pembangunan,” jelasnya.

Senada, Pengamat Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Nugroho SBM menjelaskan, bahwa sekarang ini setiap bisnis harus mengikuti tren perkembangan teknologi digital. Termasuk usaha kuliner yang dibantu fintech. Semuanya berkembang.  

“Tetapi menurut saya dua-duanya harus jalan baik konvensional ataupun dengan fintech. Orang membeli di lokasi karena butuh sesuatu sesuai yang diharapkan dan agar terhindar dari kecewa atau tertipu,” jelasnya.

Menurutnya, UMKM seperti kuliner harus pandai-pandai bekerja sama menawar harga dalam bekerja sama dengan fintech. Supaya juga bisa menekan harga jualnya. Bisnis kuliner sudah sukses digarap oleh fintech.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Pasar Kaliwungu jadi Percontohan Penerapan QRIS

Kamis, 25 November 2021 | 16:49 WIB

Faskes di Tanah Air Bisa Bersaing dengan Negara Maju

Kamis, 25 November 2021 | 14:25 WIB
X