Kampanye Positif Sawit Lewat Seminar Gastronomi

- Kamis, 25 Oktober 2018 | 10:26 WIB
Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kanya Laskhmi (Foto Istimewa)
Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kanya Laskhmi (Foto Istimewa)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Indonesian Gastronomy Association (IGA) bekerjasama dengan Sekretariat Kabinet (SetKab) Republik Indonesia menggelar acara Seminar Nasional Gastronomi Indonesia dengan tema Peran Gastronomi Indonesia dalam menumbuhkan GastroPreneurship dan memperkuat Diplomasi Indonesia. Sebagai puncak acara, digelar pula acara GastroNesia Mini PotLuck Festival pada Kamis (25/10) yang akan menghadirkan 400 orang dari peserta Seminar sendiri dengan tambahan dari kalangan korps diplomatik Kedutaan Besar Negara Sahabat maupun kalangan terhormat. 

Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kanya Laskhmi menyatakan rangkaian acara tersebut menjadi bentuk kampanye positif sawit Indonesia yang diserukan GAPKI. Mengingat selama ini banyak kampanye negatif yang berhembus seputar sawit dan produk turunan sawit di Tanah Air. 

"Gapki konsentrasi kampanye positif. Ini salah satu bagian bentuk kampanye positif," katanya di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Seminar Nasional Gastronomi Indonesia yang dihelat beberapa waktu lalu mengundang kalangan IGA, Sekretariat Kabinet & Lembaga Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Provinsi Kota & Kabupaten), Ormas lainnya (seperti APPSI, APKASI, APEKSI, PHRI, GAPMMI, KADIN, HIMPI, IWAPI, APINDO, HIPPI, ICA, APJI dan lain sebagainya) serta kalangan Perguruan Tinggi.

Menurutnya, kampanye positif sawit dapat dikemas lebih kreatif untuk memperkenalkan manfaatnya kepada masyarakat. Cara yang bisa dilakukan mendekatkan produk turunan sawit dengan ragam makanan Indonesia.

"Masyarakat Indonesia dapat diperkenalkan bahwa makanan Indonesia tidak lepas dengan produk turunan sawit. Bukan hanya minyak goreng, adapula margarin maupun butter cocoa,” katanya. 

Kanya menjelaskan bahwa penyebaran informasi sawit yang bersifat positif dapat dilakukan lebih kreatif dan out of the box. Kegiatan melalui seminar dan pameran gastronomi ini salah satunya. 

"Tradisi goreng menggoreng itu turun temurun dalam masakan Indonesia. Disinilah sawit berperan penting. Dari aspek kesehatan, sawit seimbang untuk kandungan lemak jenuh dan tak jenuh,” ujarnya.

Seminar Nasional Gastronomi Indonesia mengangkat 3 (tiga) topik yakni: Branding Power, Entrepreneurship Ratio, Gastro Diplomacy & Culinary Diplomacy. Adapum GastroNesia Mini PotLuck Festival menghadirkan lebih kurang 300 aneka hidangan makanan Indonesia & antar bangsa serta atraksi penampilan tarian tradisional Papua & Sunda. Acara Seminar & Potluck didukung oleh BPDPKS, Technogas, BCA, Waroeng Kita, Minyak Goreng Sania, Bank Mandiri, BNI Life Insurance, Bank Bukopin.ESIDEN

Data statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif tahun 2017 menunjukkan, subsektor boga (makanan) sebagai salah satu industri ekonomi kreatif di Indonesia telah berkontribusi sebesar 41,69% bagi Produk Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan subsektor boga (makanan) pun menunjang pertumbuhan pariwisata Indonesia. Hal ini terlihat dari pencapaian Indonesia yang berhasil menduduki posisi ke-42 dari 136 negara dalam Travel and Tourism (T&T) Competitiveness Index 2017 setelah sebelumnya berada di posisi ke-50 dari 141 negara pada 2015.

Halaman:
1
2

Editor: Maya

Tags

Terkini

X