Identix Batik Tulis Kembangkan Konsep Pemasaran Digital 3D Fesyen Show, Tembus Pasar Luar Negeri

- Rabu, 12 Oktober 2022 | 06:05 WIB
Founder Identix Batik Tulis Indonesia Irma Susanti yang terus bernovasi untuk mengembangkan batik sebagai heritage budaya Indonesia. (suaramerdeka.com/Dok)
Founder Identix Batik Tulis Indonesia Irma Susanti yang terus bernovasi untuk mengembangkan batik sebagai heritage budaya Indonesia. (suaramerdeka.com/Dok)
SEMARANG, suaramerdeka.com- Konsep pemasaran digital terus dikembangkan pengusaha termasuk Identix Batik Tulis Indonesia.
 
Pengembangan batik sebagai warisan budaya Indonesia ini harus sejalan dengan pemasaran digital untuk menjangkau lebih luas lagi.
 
Selain mengembangkan fesyen show 3D dengan konsep digital, cara ini menggantikan konsep langsung atau virtual.
 
 
Founder Identix Batik Tulis, Irma Susanti mengungkapkan, langkahnya mengembangkan batik sudah dimulai sejak 2017.
 
Lulusan Sosiologi Antropologi Universitas Negeri Semarang ini mengungkapkan, Identix ingin menjadi bagian untuk mendukung ekonomi kerakyatan.
 
Selain itu juga menjadi produsen batik unggul Indonesia yang bisa menembus pasar global.
 
 
"Anak muda seperti kitalah yang harus meneruskan dan menjaga heritage batik ini, kalau bukan kita siapa lagi," kata Irma yang juga menjadi pengurus HIPMI Jateng ini.
 
Identix yang memang dikenal limited edition menciptakan desain yang terbatas sehingga orang akan bangga memakainya.
 
Sebagai seorang desainer sekaligus CEO di perusahaannya itu, Irma terus mempelajari budaya dan tren anak muda sudah sejauh apa.
 
  
Sejak merintis usaha ini, Irma boleh berbangga bisa memulai pasar bersama Sarinah Mall saat itu dan berkolaborasi dengan sejumlah BUMN.
 
Mulai dari undangan eksebisi ke Jepang di Nagoya Tower, disana Irma mengenalkan batik melalui fesyen show.
 
"Kalau di Jepang lebih suka yang natural dan batik tulis Identix bisa sebagai bahan dasar pembuatan kimono," papar Irma.
 
 
Di tahun 2018, Batik Identix mulai masuk ke Eropa khususnya di London dan 2019 ada di Paris Fashion Week.
 
Saat pandemi, tentu tantangannya juga lebih besar lagi apalagi saat mengikuti New York Fashion Week.
 
Menurut Irma, dukungan bagi UKM pembatik harus terus didorong khususnya terkait permodalan dan pemasaran.
 
"Saya melihat kasian juga UKM batiknya, pemodal besar semakin kaya tapi mereka bayar by tempo padahal pembatik ini juga butuh modal," imbuhnya.
 
 
Ketika pandemi pun, Identix banyak menggunakan strategi pemasaran digital.
 
Pengembangan ini melalui fesyen show yang bisa dinikmati konsumen meski hanya video digital.
 
Batik Identix ini memang dikenal dengan desainnya yang fleksibel yang membuat anak milenial makin bangga menggunakan batik.
 
Dengan desain custom dan milenial ini anak-anak muda yang memakai batik akan memiliki mindset berbeda.
 
 
''Dari batik yang dulu dianggap terlalu formal, resmi tua dan kuno akan berubah jadi beda dan keren,'' kata Irma.
 
Selain mendesain batik tulis untuk perseorangan dan juga kalangan corporate, batik ready to wear Identix juga memiliki pasar tersendiri.
 
Khususnya di masa pandemi, dimana lebih banyak orang bekerja dari rumah. Penggunaan batik di hari-hari tertentu juga jadi kebutuhan meski hanya melalui zoom.
 
 
''Kalau pandemi marketnya memang lebih ke government tapi ada segmen memang yang request seperti dokter atau seragam khusus perkantoran yang ingin ada sentuhan batiknya,'' imbuhnya.
 
Yang terpenting, bagi Irma selain memenuhi pasar milenial adalah bagaimana ekonomi kerakyatan ini bisa bertahan di tengah pabdemi.
 
''Bagaimana pembatik ini bisa bertahan perajinnnya harus survive untuk itu kita harus kombinasikan dengan digitalisasi melalui penjualan online,'' kata Irma.

Editor: Modesta Fiska

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X