Harga Minyak Sedikit Melemah Jelang Rilis Persediaan AS

- Rabu, 28 Juli 2021 | 10:12 WIB
Kilang Minyak lepas pantai. (suaramerdeka.com / dok)
Kilang Minyak lepas pantai. (suaramerdeka.com / dok)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Menjelang rilis data persediaan AS, harga minyak sedikit melemah pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).

Melonjaknya kasus Covid-19 investor khawatir bahwa permintaan global dapat terganggu, meskipun pasokan mengetat dan tingkat vaksinasi meningkat.

Untuk pengiriman September, minyak mentah berjangka Brent tergelincir 2 sen menjadi menetap di 74,48 dolar AS per barel, sekaligus menjadi penurunan pertama untuk Brent dalam enam hari terakhir.

Dalam periode yang sama, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 26 sen atau 0,4 persen, menjadi ditutup di 71,65 dolar AS per barel.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 Berbasis Risiko Terus Dipercepat, Menkes Ungkap yang Dapat Prioritas

Menurut dua sumber pasar, mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Selasa (27/7)Persediaan minyak mentah, bensin, dan sulingan AS, merosot pekan lalu.

Minyak mentah AS memangkas kerugian dalam perdagangan pasca-penyelesaian karena pasar bereaksi terhadap data API, diperdagangkan pada 71,89 dolar AS pada pukul 21.06 GMT.

Harga minyak mentah AS menetap sedikit lebih rendah dan memangkas kerugian setelah laporan API.

Baca Juga: Dolar Melemah pada Sekeranjang Mata Uang Lain, Usai Investo Tunggu Hasil Pertemuan Fed

Data API menunjukkan stok minyak mentah turun 4,7 juta barel untuk pekan yang berakhir 23 Juli dan persediaan bensin turun 6,2 juta barel serta stok sulingan berkurang 1,9 juta barel.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan data menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 2,9 juta barel dan stok bensin turun 900.000 barel dalam seminggu hingga 23 Juli.

Data persediaan resmi akan dirilis oleh Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu waktu setempat.

"Masalah saat ini tampaknya adalah varian Delta dari virus corona, yang menahan pasar meskipun semua bukti saat ini menunjukkan pengetatan pasokan yang dramatis," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago.

Pasar minyak global diperkirakan akan tetap defisit meskipun ada keputusan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, untuk meningkatkan produksi.

“Data lalu lintas jalan yang kuat di sebagian besar wilayah utama menunjukkan peningkatan infeksi memiliki dampak minimal,” kata analis ANZ Research.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Inflasi AS

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:48 WIB

Tekan Biaya Operasional Logistik dengan Dexlite

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:24 WIB
X