Harga Minyak Beragam di Akhir Perdagangan Seiring Sesi yang Bergejolak

- Selasa, 27 Juli 2021 | 10:48 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com – Sesi yang bergejolak membuat harga minyak beragam pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).

Kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar, dipicu penyebaran varian Delta Covid-19 memicu, tetapi kerugian dibatasi perkiraan bahwa pasokan minyak mentah akan ketat sepanjang sisa tahun ini.

Untuk pengiriman September, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terdongkrak 40 sen atau 0,5 persen, menjadi mengakhiri sesi di 74,50 dolar AS per barel.

Untuk pengiriman di periode serupa, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS tergelincir 16 sen atau 0,2 persen, menjadi menetap di 71,91 dolar AS. Di awal sesi, kedua kontrak acuan turun lebih dari satu dolar AS per barel.

Baca Juga: Bank Himbara Siap Dukung Penyaluran KUR Pertanian, 8 Klaster Disiapkan

"Risk appetite (selera risiko) jelas meningkat secara besar-besaran selama seminggu terakhir dan sama seperti aset berisiko lainnya, minyak mengambil jeda menjelang beberapa hari yang intens," kata Analis Pasar Senior OANDA, Craig Erlam.

Selama akhir pekan, meningkatnya kasus Covid-19 membuat sejumlah pihak khawatir, impor minyak mentah China tahun ini dapat tumbuh pada tingkat paling lambat dalam dua dekade.

Namun meskipun diperkirakan ada kenaikan dalam tingkat penyulingan di paruh kedua, karena tindakan keras Beijing terhadap penyalahgunaan kuota impor yang dikombinasikan dengan dampak harga minyak mentah yang tinggi.

“Varian Delta masih menyebar dan China mulai menekan sejumlah teapot (pemurni independen), sehingga pertumbuhan impor mereka tidak akan sebesar itu,” kata Manajer Komoditas Senior Phillips Futures Singapura, Avtar Sandu.

Baca Juga: Misi Khusus Raja Sapta Oktohari di Tokyo: Perluas Jaringan Demi Indonesia Tuan Rumah Olimpiade

Sementara itu harga minyak mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS seiring pelemahan indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,28 persen menjadi 92,6487 pada akhir perdagangan Senin (26/7/2021).

Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

"Impor minyak pada Juni turun ke level terendah sembilan bulan, sementara pemrosesan minyak mentah hanya sedikit di atas level terendah Mei, yang dipengaruhi oleh pembatasan pandemi," kata mereka.

Pekan lalu, kedua patokan minyak mentah pulih dari penurunan 7,0 persen di awal pekan dan menandai kenaikan mingguan pertama mereka dalam dua hingga tiga minggu, didorong oleh permintaan AS yang kuat dan ekspektasi pasokan yang ketat.

Pasar minyak global diperkirakan akan tetap defisit meskipun ada keputusan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, untuk meningkatkan produksi sepanjang sisa tahun ini.

Halaman:
1
2

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X