Kesepakatan OPEC+ Membuat Harga Minyak Merosot Sekitar 5 Dolar AS

Ant
- Selasa, 20 Juli 2021 | 10:30 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

JAKARTA, suaramerdeka.com – Kesepakatan OPEC+ membuat harga minyak merosot sekitar lima dolar AS per barel pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).

Di tengah meningkatnya infeksi Covid-19 dari varian Delta yang lebih menular membuat kesepakatn OPEC+ mengancam permintaan produksi sekaligus memicu kekhawatiran kelebihan pasokan.

Untuk pengiriman September, minyak mentah berjangka Brent menetap di 68,62 dolar AS per barel, kehilangan 4,97 dolar AS atau 6,8 persen.

Baca Juga: Ringankan Pemerintah, Kadin Dorong Perusahaan yang Mampu Ambil Opsi Vaksinasi Gotong Royong

Lalu untuk pengiriman Agustus, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus anjlok 5,39 dolar AS atau 7,5 persen menjadi ditutup pada 66,42 dolar AS per barel.

Lalu pada pengiriman September pula, kontrak berjangka minyak mentah WTI menetap di 66,35 dolar AS per barel atau merosot 5,21 dolar AS.

Pemulihan minyak mentah selama setahun telah terhenti selama dua minggu terakhir karena prospek pasokan baru merusak kasus untuk harga yang lebih tinggi.

Baca Juga: Investor Khawatirkan Ancaman Varian Delta, Mata Uang Safe-haven Menguat di Akhir Perdagangan

Dengan varian Delta dari virus corona yang menyebar ke seluruh dunia - memicu kenaikan 70 persen dalam infeksi di AS minggu lalu.

Masih belum jelas bagaimana varian tersebut akan mempengaruhi permintaan minyak. Konsumsi di Amerika Serikat, konsumen bahan bakar terbesar di dunia, terus menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Namun India selaku importir terbesar ketiga, telah mengurangi impor karena kelebihan pasokan dan kekhawatiran berkurangnya permintaan.

"Pasar sangat terpaku pada potensi meledaknya varian Delta. Karena itu, kami kehabisan uang," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mencapai kompromi pada Minggu (18/7/2021) untuk meningkatkan pasokan minyak mulai Agustus untuk mendinginkan harga, yang telah mencapai level tertinggi bulan ini dalam lebih dari dua tahun.

"Kami masih menghadapi defisit yang signifikan dalam hal pasokan versus permintaan, tetapi untuk saat ini, tambahan barel dianggap cukup untuk mengempiskan dan membunuh reli baru-baru ini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X