Budi JVS, Mantan Pebalap yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Vape

- Kamis, 15 Juli 2021 | 17:15 WIB
Budi JVS. (suaramerdeka.com / dok)
Budi JVS. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Vape (vapor) atau dikenal sebagai rokok elektronik kini makin digemari di kalangan anak muda.

Selain lebih bergaya, menyehatkan, vapor banyak variannya, sehingga tidak membosankan. 

Di negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat, Vape dianjurkan untuk orang orang yang belum bisa meninggalkan rokok konvensional.

Di Inggris (UK) malah vapor sudah diresepkan untuk orang yang hendak meninggalkan rokok.

Baca Juga: Masuk Grobogan, Pekerja Sektor Esensial dan Kritikal Wajib Tunjukkan STRP

Karenanya,  perkembangan vapor di negara maju sangat bagus dan  diterima di masyarakat. 

Di Indonesia, perkembangan Vapor mengalami pasang surut.

Selain belum memasyarakat, rokok jenis elektronik ini "rentan" diisukan negatif.

Merokok menggunakan Vapor lebih jahat dari rokok biasa.

Baca Juga: Kemenag Imbau Merayakan Idul Adha dengan Prokes Ketat demi Kemaslahatan Umat

Demikian salah satu stigma yang dihembuskan untuk membendung Vape agar tidak berkembang. 

Budi JVS merupakan sosok pengusaha berawal dari seorang pembalap.

Berbagai kejuaraan seperti ISSOM, ETCC pernah diikuti dengan torehan ratusan piala yang berjejer menjadi bukti atas prestasinya di dunia balap.

Kini Budi JVS menjelma menjadi pembisnis vape terbesar di Jakarta bahkan di Indonesia.

Ia juga pemilik bisnis armada pengangkut mobil yang biasa dipakai untuk mobil balap maupun mobil standard Jakarta Towing Service, Jakarta Barber Shop / JBS, Jakarta Cycling Shop / JCS ( Toko & Distributor sepeda roadbike maupun sepeda lain).

"Sejak 2013, saya terjun dan menekuni bisnis Vape. Awalnya saya membuka toko off-line, dengan bendera Jakarta Vapor Shop (JVS). Tahun 2014 bisnis ini berkembang, terutama di Jawa dan Bali saya masuk ke bisnis on-line juga booming," terang Budi.

Sayangnya, kata Budi saat sedang naik daun, bisnis ini diterpa isu yang tidak sedap.

Vapor dianggap lebih jahat dari rokok biasa. Akhirnya orang pada berhenti vaping (sebutan untuk menikmati vapor).

Ada yang balik ke rokok konvensional, tidak sedikit pula yang berhenti sama sekali.

"Vape dianggap barang ilegal karena belum ada regulasi dari pemerintah. Razia terhadap penjual Vape pun terjadi di mana-mana. Bisnis Vape jatuh, saya pun pindah ke Malaysia. Di sana saya buat jaringan distribusi. Ternyata kok lancar. Network saya di Malaysia sampai sekarang masih bertahan, dan terus berkembang," ujar Budi JVS.

Khusus untuk vape, saat ini Budi bersama perusahaannya, Jakarta Vape Shop (JVS) dan para vaper (pemakai vapor), menyosialisasikan Vape agar diterima di masyarakat agar Vapor digemari masyarakat.

"Prediksi ke depan, dalam setahun ini masih bagus. Tergantung regulasi pemerintah juga. Semoga payung hukumnya segera ada, tidak abu abu seperti sekarang," kata dia.

Dikatakan Budi pemerintah mulai mendukung bisnis ini. Misalnya, pada 2018 vape mulai dicukaikan.

Bahkan di tahun 2021 ini mau dibikinkan Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Kementerian Perdagangan dan Perindustrian sehingga Vape makin diterima pasar.

"Sejak dicukaikan di tahun 2018, industri Vape Indonesia telah menyumbangkan pemasukan pajak Rp 150 milliar. Di tahun 2019 naik menjadi Rp 420 milliar, dan di tahun 2020 naik lagi menjadi Rp 680 milliar. Kini saya bersama pegiat Vapor dibawah Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), sedang berupaya Vape dibikin SNI oleh Kementerian Perdagangan, sehingga Vape makin diterima pasar," ungkap Budi.

Pada 2020-2021 bisnis Vapor mengalami kelesuan gara gara pandemi Covid-19 melanda dunia.Tak terkecuali di Indonesia.

"Kebanyakan pelanggan Vape di kalangan menengah ke bawah. Gajinya Rp 3 juta atau maksimal UMR. Tentunya sangat terimbas. Belum lagi kalau mereka dirumahkan, pemotongan gaji dan sebagainya. Hal ini tentu berdampak pula pada penjualan Vape," kata Budi. 

Budi tidak berdiam diri memikirkan situasi ini. JVS pun menggandeng perusahaan asuransi untuk bekerja sama di masa pandemi Covid-19.

Pelanggan setia JVS mendapatkan asuransi gratis selama masa pandemi. Besarnya satunan Rp 150 ribu perhari untuk biaya perawatan selama 7 hari.

Untuk bila terpapar Covid19 hingga meninggal dunia, santunan mencapai Rp 12 juta. 

"Agustus 2021 layanan ini kami luncurkan. Pelanggan cukup mengisi biodata. Nanti akan dikirim e-polis. Sistem klaim rembes, jadi setelah menerima kuitansi dari rumah sakit, bisa diklaim ke pihak asuransi," kata Budi.

Di sisi lain Budi sudah mendapat lampu hijau dari MURI, bahwa terobosan yang dilakukan JVS merupakan pertama kali di Indonesia, bahkan dunia. Maka, layak  Muri memberikan apresiasi.

"Hal ini untuk membagikan pengalaman hingga memotivasi kaum mileneial untuk memulai berbisnis dengan beberapa ide dan gagasan yang luar biasa, semua itu bertujuan agar anak bangsa bisa menciptakan lapang pekerjaan baru dan meningkatkan perekonomian Indonesia," tuntas Budi.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Faskes di Tanah Air Bisa Bersaing dengan Negara Maju

Kamis, 25 November 2021 | 14:25 WIB
X