Mata Uang Berisiko Lebih Disukai, Dolar AS Melemah di Akhir Perdagangan

Ant
- Sabtu, 10 Juli 2021 | 09:24 WIB
Dollar. (Pixabay)
Dollar. (Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Setelah mata uang berisiko lebih disukai, dengan reli obligasi pemerintah AS kehabisan tenaga dan pasar saham global stabil, dolar melemah pada terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).

Pelemahan dolar juga bersama dengan yen Jepang. Penurunan diperlihatkan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya sebesar 0,252 persen menjadi 92,131.

Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions memperkirakan, aksi ambil untung menjelang data inflasi utama AS untuk Juni yang akan dirilis minggu depan menjadi penyebab menurunnya greenback

"Dolar yang bullish menarik beberapa keuntungan," katanya.

Baca Juga: Dolar Melemah dan Kekhawatiran Varian Delta Membuat Emas Menguat

Di sisi lain, Yen, yang dianggap sebagai mata uang safe-haven, turun karena selera risiko mulai pulih.

"Penurunan dolar-yen kemarin berbalik bersama dengan selera risiko dalam ekuitas, menunjukkan tidak ada efek limpahan yang lebih luas di seluruh pasar untuk saat ini - langkah yang sama terlihat pada imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang memantul kembali di atas 1,3 persen," kata Steen Jakobsen, direktur investasi di Saxo Bank.

Yen melemah 0,39 persen menjadi 110,185, mengembalikan sebagian kenaikannya terhadap greenback pada Kamis (8/7/2021), ketika mengalami kenaikan harian terbesar sejak November.

Dikutip dari Reuters, Aussie naik 0,79 persen menjadi 0,74905 dolar AS, setelah menyentuh terendah baru untuk tahun ini di 0,7410 dolar AS.

Baca Juga: WHO Belum Memastikan Perlunya Suntikan Penguat Anti Covid-19

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aset Kripto sebagai Instrumen Investasi Online

Kamis, 22 Juli 2021 | 23:21 WIB
X