Indonesia Banyak Gunakan NTM untuk Sektor Pangan dan Pertanian

- Jumat, 18 Juni 2021 | 13:30 WIB
Ilustrasi tarif. (suaramerdeka.com / dok)
Ilustrasi tarif. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Penggunaan hambatan non-tarif atau non-tariff measures (NTM) dalam perdagangan umum dilakukan banyak negara untuk mendukung tujuan politik dan ekonomi mereka. 

Namun penggunaan yang berlebihan justru dapat berdampak negatif bagi bisnis, konsumen serta perekonomian mereka secara umum.

Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak menggunakan hambatan ini, terutama di sektor pangan dan hasil pertanian.

Baca Juga: Rokok dan Pernikahan Dini, Ancaman Serius Anak Indonesia

Hal ini berakibat pada tingginya harga pangan sehingga membebani konsumen, menggerogoti daya saing ekspor serta membahayakan ketahanan pangan nasional.

“‘NTM memang seringkali diperlukan untuk alasan kesehatan dan keamanan, namun penggunaan yang eksesif dapat mempengaruhi struktur pasar dan menambah biaya tinggi pada bisnis yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen,” ujar Felippa Amanta, Kepala Peneliti Center for Indonesian Policy studies (CIPS).

Sebuah penelitian yang akan diluncurkan CIPS pada hari Kamis (17/6/2021) mengupas permasalahan NTM ini dan merekomendasikan agar pemerintah mengurangi penggunaan NTM demi memacu ekspor serta pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Pulau Komodo Bangkit di Tengah Pandemi, Ekonomi Pulih Kembali

Felippa mengatakan, NTM menambah biaya untuk penegakan kepatuhan terhadapnya dan untuk pengadaan serta adaptasi proses bagi bisnis manufaktur makanan dan minuman (F&B), membatasi akses korporasi ke pasar global.

Selain itu, dapat mengurangi produktivitas dan daya saing dan juga melemahkan ketahanan pangan nasional.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X