Dolar Kembali Melonjak pada Akhir Perdagangan, Capai Level Tertinggi 2 Bulan

Ant
- Jumat, 18 Juni 2021 | 09:24 WIB
Dolar AS. (Forbes)
Dolar AS. (Forbes)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Dolar kembali melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), mencapai level tertinggi dua bulan terhadap sekeranjang mata uang.

Lonjakan ini sehari setelah pejabat Federal Reserve (Fed) AS mengejutkan pasar dengan memproyeksikan kenaikan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari yang diperkirakan.

Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,53 persen pada 91,892. Pencapaian ini tertinggi sejak pertengahan April.

Baca Juga: Harga Emas Berjangka Terjungkal Usai Investor Mempercepat Aksi Jual

Pada Rabu (16/6/2021) dolar melonjak hampir 1,0 persen, persentase kenaikan harian terbesar sejak Maret 2020.

Di hari itu, pejabat Fed memproyeksikan jadwal yang dipercepat untuk kenaikan suku bunga, memulai pembicaraan tentang bagaimana mengakhiri pembelian obligasi darurat, dan mengatakan pandemi Covid-19 tidak lagi menjadi kendala utama pada perdagangan AS.

Setidaknya dua seperempat poin kenaikan suku bunga diprediksi mayoritas dari 11 pejabat Fed untuk tahun 2023, sekaligus menambahkan mereka akan tetap mendukung kebijakan untuk saat ini guna mendorong pemulihan pasar tenaga kerja.

Baca Juga: Indonesia Terima 1 Juta Dosis Vaksin Sinopharm, Diharap Dukung Program Vaksin Gotong Royong

"Menjelang pertemuan Fed, kami merasa ada risiko hasil yang lebih hawkish yang dapat mendorong penguatan dolar AS jika itu terjadi," kata Associate Portfolio Manager Manulife Asset Management, Chuck Tomes, di Boston.

Namun, Tomes mengatakan, dolar akan melemah dalam jangka panjang. Proyeksi baru The Fed mendorong beberapa, termasuk Goldman Sachs dan Deutsche Bank, untuk mengabaikan seruan menjual dolar.

"Kami terus memperkirakan pelemahan dolar AS secara luas, didorong oleh valuasi mata uang yang tinggi dan pemulihan ekonomi global yang meluas," tulis analis di Goldman Sachs dalam sebuah catatan pada Rabu (16/6/2021).

Dolar Australia - dilihat sebagai proksi untuk selera risiko - turun 0,72 persen pada 0,75545 dolar AS, terendah sejak 1 April.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KPR Danamon Raih Properti Indonesia Award 2021

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 19:12 WIB

Pinjol Ilegal Mainkan Psikologi Nasabah

Kamis, 14 Oktober 2021 | 20:31 WIB

Berani Investasi di Pasar Modal/Keuangan?

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:13 WIB
X