Harga Minyak Mentah Anjlok Hampir 2 Persen dari Level Tertinggi

Ant
- Jumat, 18 Juni 2021 | 08:48 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com – Setelah naik selama lima hari beruntun, harga minyak mentah anjlok hampir dua persen dari level tertinggi dalam beberapa tahun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB).

Anjloknya harga minyak dikarenakan dolar menguat setelah bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga acuan secepatnya pada 2023.

Untuk pengiriman Agustus, harga minyak mentah berjangka Brent terpangkas 1,31 dolar AS atau 1,8 persen, menjadi ditutup pada 73,08 dolar AS per barel.

Baca Juga: Harga Emas Berjangka Terjungkal Usai Investor Mempercepat Aksi Jual

Lalu, untuk pengiriman Juli, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli turun 1,11 dolar AS atau 1,5 persen, menjadi menetap di 71,04 dolar AS per barel.

Pada Rabu (16/6/2021) harga minyak Brent menetap di level tertinggi sejak April 2019 dan WTI pada level tertinggi sejak Oktober 2018.

Meskipun penurunan pada Kamis (17/6/2021) adalah persentase penurunan harian terbesar sejak Mei, kedua harga acuan tersebut masih naik lebih dari 40 persen sepanjang tahun ini.

Baca Juga: PPKM Mikro Diperpanjang, Peran Puskesmas Diposisikan Kian Sentral

Melonjaknya kasus virus Corona baru melonjak di Inggris memicu kekhawatiran permintaan minyak. Kekhawatiran pasokan atas kembalinya barel Iran juga membebani pasar.

Namun para pedagang mengatakan pemilihan presiden pada Jumat di Iran dapat menggagalkan pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran dan membiarkan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran tetap berlaku.

Greenback yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal dalam mata uang lain, yang dapat mengurangi permintaan.

Di sisi lain, analis mengatakan Iran dapat meningkatkan pasokan minyak sebesar 1 juta hingga 2 juta barel per hari jika sanksi dicabut.

Washington telah memberikan sanksi kepada Raisi karena diduga terlibat dalam eksekusi tahanan politik. Pemilihannya akan mempersulit Amerika Serikat dan Iran untuk mencapai kesepakatan tentang pengayaan uranium Iran yang akan memungkinkan pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X