Analisis Ryan Kiryanto: Pemulihan Ekonomi Bergantung Kecepatan Distribusi Vaksinasi

- Kamis, 17 Juni 2021 | 19:11 WIB
Presiden Jokowi memantau vaksinasi massal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, ditemani Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (suaramerdeka.com/dok)
Presiden Jokowi memantau vaksinasi massal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, ditemani Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (suaramerdeka.com/dok)

 JAKARTA, suaramerdeka.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Juni 2021 memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

"Keputusan tersebut mengacu kepada ekspektasi inflasi yang rendah di tengah stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga. Tujuan akhir dari keputusan BI tersebut pun tepat, yakni untuk memperkuat jalur pemulihan ekonomi yang sedang on track. Maka, tepat jika stance kebijakan BI ini disebut dengan kebijakan moneter akomodatif," kata pengamat perbankan Ryan Kiryanto, di Jakarta, Kamis.

Senior ekonom Bank BNI ini berpendat jika melihat tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari peluang bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menormalisasi kebijakannya mengacu pada perkembangan permulihan ekonominya yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, maka keputusan RDG BI yang tetap menahan BI Rate di level 3,5% sungguh tepat.

Baca Juga: 16 Orang Pegawai PN Semarang Positif Corona, Seluruh Kantor Akan Disemprot Disinfektan

Maklum, dengan laju perekonomian AS yang cepat diikuti dengan laju inflasi yang melampaui “ambang batas” sebesar 2%, muncul spekulasi bahwa cepat atau lambat The Fed akan menormalisasikan kebijakan ekonomi/moneternya.

Wujudnya adalah dengan mulai mengurangi pembelian aset/obigasi (pemerintah AS dan korporasi swasta) secara bertahap hingga tidak ada lagi aksi pembelian (ini dikenal dengan istilah taper tantrum) dan/atau menaikkan suku bunga acuan (fed fund rate/FFR) dari posisi sekarang yang 0-0,25% ke level yang lebih tinggi.

Ryan menambahkan normalisasi kebijakan ekonomi AS biasanya akan diikuti oleh sikap kebijakan bank-bank sentral negara lain, lebih-lebih ketika terpantau pergerakan pemulihan ekonomi kelompok negara maju sudah berada di jalur yang tepat dan benar.

Beberapa lembaga internasional menengarai akan adanya divergensi pertumbuhan ekonomi global, dimana di kelompok negara maju tumbuh lebih cepat dibandingkan di kelompom negara sedang berkembang.

Baca Juga: Kasus KIPI Muncul, Pakar Kesehatan: Butuh 28 Hari Bentuk Kekebalan Tubuh setelah Vaksin Kedua

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Aset Kripto sebagai Instrumen Investasi Online

Kamis, 22 Juli 2021 | 23:21 WIB
X