Ekspor Kelapa Parut Kering Tandai Geliat Ekonomi Jawa Barat di tengah Pandemi

- Rabu, 16 Juni 2021 | 13:29 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membahas ekspor kelapa kering dalam Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Pakuan Bandung. (suaramerdeka.com / Setiady Dwi)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membahas ekspor kelapa kering dalam Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Pakuan Bandung. (suaramerdeka.com / Setiady Dwi)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Ekspor perdana kelapa parut kering ke Kosta Rika hingga 23 ton menjadi indikator menggeliatnya aktivitas ekonomi Jawa Barat terutama di kalangan industri kecil menengah hingga UMKM setelah terhantam pandemi Covid-19.

Menurut Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, langkah tersebut diharapkan mampu menularkan hawa positif.

Dengan demikian, peluang usaha semakin terbuka lebar termasuk mendapatkan ceruk baru mengingat kawasan Amerika Latin itu termasuk pasar non tradisional.

"Ekspor kita sendiri naik 22,6 persen. Hingga April lalu, nilainya Rp 150 triliun. Mayoritas non migas, dan simbolisasinya melalui ekspor kelapa parut ini. Lebih dari itu, ini merupakan indikator ekonomi kita dalam proses pemulihan," katanya dalam Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Pakuan Bandung, Rabu (16/6).

Baca Juga: Ketua Presidium IPW Neta S Pane Meninggal Dunia

Melalui ekspor tersebut, pihaknya juga ingin mendorong pelaku usaha kecil dan menengah tak sekadar jago kandang.

Kuncinya, mereka harus jeli dalam merespon pasar, membuka banyak akses, dan melakukan peningkatan kapasitas berusaha.

Dia mencontohkan produk kelapa parut tersebut. Kebutuhannya bisa untuk seluruh dunia. Hanya saja untuk bisa mengoptimalkan kesempatan tersebut, tak jarang pelaku usaha kecil dan menengah mengalami kesulitan. Mereka masih harus mendapatkan pelatihan lebih lanjut.

"UMKM kita kadang dalam prosesnya masih manual, padahal sudah perlu mekanisasi seperti packaging. Kadang lagi, mereka punya produk tapi tak mengerti ekspor, sehingga rasio ekspornya masih bisa ditingkatkan lagi karena masih kecil," katanya.

Baca Juga: WhatsApp Akhirnya Batalkan Kebijakan Baru Soal Privasi

Untuk itu, pihaknya bakal menggulirkan program Kampus Ekspor UMKM. Pendampingan tersebut diharapkan bisa menjembatani kesulitan-kesulitan yang dihadapi di lapangan sekaligus memberikan jalan keluarnya.

Tak hanya itu, pihaknya pun bakal aktif meminta informasi peluang ekspor ke KBRI di banyak negara.

"Dengan bekal informasi itu, kita ingin mencomblangkan apa yang kami punya dengan yang dibutuhkan di negara tujuan, karena kita ingin memperluas pasar. Apalagi di saat pandemi, kita butuh kabar inspiratif, tak boleh menyerah tapi harus optimis," jelasnya.

Baca Juga: TPU Kota Semarang Sudah Penuh, Pemkot Akan Bebaskan Lahan untuk Makam Baru

Di tempat yang sama, Kadisperindag Jabar M Arifin Soedjayana menambahkan bahwa produk agro memang menjadi andalan di saat pandemi.

Sebelumnya, kelapa parut itu dilempar ke pasar China, Irak, Jepang, Kuwait, Rusia, Ukraina, dan Arab Saudi.

"Dan ini awal untuk ekspor ke Kosta Rika dan Amerika Latihn yang merupakan pasar non tradisional karena selain kelapa parut kering, ada juga briket batok kelapa hingga buah-buahan dan sayur-sayuran segar," katanya.

Merujuk nilai ekspor, dia menyebut celah gres tersebut cukup menjanjikan. Pasalnya ada peningkatan nilai eskpor yang pertengahan tahun ini sedikitnya mencapai 338 Juta US Dollar. Meningkat dibandingkan awal 2020 yang membukukan 265 Juta US Dollar.

"Karenanya, untuk bagian dari pemulihan untuk ekspor yang cukup meningkat ini kita tengah lakukan pembinaan terhadap 30 eksportir baru, itu termasuk pelatihan digital dan business matching guna mengoptimalkan peluang tersebut," katanya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rumah juga Perlu Asuransi, Ayo Kenali Manfaatnya

Rabu, 22 September 2021 | 21:53 WIB

Pandemi, Pertumbuhan Investor Justru Makin Bersemi

Jumat, 17 September 2021 | 15:21 WIB
X