Minat Pelaku Usaha Pakai LCS Tinggi, Sosialisasi Kurang dan Fasilitas Belum Membumi

- Kamis, 16 Juni 2022 | 08:48 WIB
Ilustrasi Local Currency Settlement (Pixabay)
Ilustrasi Local Currency Settlement (Pixabay)

BANDUNG, suaramerdeka.com - Minat pelaku usaha menggunakan local currency settlement (LCS) dinilai menunjukan tren meningkat.

Hanya saja, fasilitas LCS tersebut cenderung belum membumi.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Destry Damayanti, pelaku usaha yang menggunakan LCS sebenarnya meningkat pesat dalam dua tahun terakhir.

"Tadinya baru sekitar 400-500, tapi pada April lalu, itu meningkat menjadi 1.500 nasabah. Dari jumlah tersebut, 400 di antaranya ada di Jawa Barat, artinya minat itu tinggi tapi sosialisasi yang kurang," katanya saat pembukaan West Java Industrial Meeting 2022 di Bandung, Rabu 15 Juni 2022.

Baca Juga: Hadapi Banyak Masalah, Developer Lintas Asosiasi Bersatu Bentuk Paguyuban

Untuk itu, pihaknya melalui taskforce bakal terus menggenjot sosialisasi penggunaan LCS di antaranya dengan melakukan public expose ke sejumlah daerah.

Destry pun menjelaskan dalam rentang waktu tersebut, kecenderungan nilai transaksi yang menggunakan LCS pun ikut melonjak.

LCS sendiri di antaranya berlaku untuk pembayaran perdagangan dengan Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok.

"Pada 2021 misalnya, transaksi LCS itu naik 3 kali lipat dari semula 797 juta (US Dollar) meningkat menjadi 2,53 miliar. Hingga April lalu, tahun ini, itu sudah lebih Rp 1 miliar nilainya," katanya.

Baca Juga: Indonesia Lolos ke Piala Asia 2023, Ini Ucapan Selamat dari FIFA

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Waspada! Ini Ciri-ciri Modus Penipuan Pinjaman Online

Kamis, 24 November 2022 | 10:36 WIB

Profesi Akuntan Bersinergi Hadapi Era Society 5.0

Selasa, 8 November 2022 | 17:26 WIB
X