Digitalisasi, Langkah Seribu Selamatkan Pasar Tradisional (2) : E-Retribusi, Penambal Kebocoran Anggaran  

- Rabu, 11 Mei 2022 | 13:51 WIB
 Ninik (40), pedagang kios kelontong di Pasar Kadipolo, Kota Solo memperlihatkan bukti pembayaran e-retribusi melalui mobile banking (m-banking), akhir Maret lalu. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Ninik (40), pedagang kios kelontong di Pasar Kadipolo, Kota Solo memperlihatkan bukti pembayaran e-retribusi melalui mobile banking (m-banking), akhir Maret lalu. (suaramerdeka.com/Hartatik)

“Kami beri rekap album pada petugas pemungut retribusi, berisi kode VA pedagang yang di-generate seperti QRIS. Mereka cukup scan dari kantor dan muncul siapa saja pedagang yang belum bayar. Petugas tinggal mendatangi pedagang tersebut,” terang Romadhani.

Lurah Pasar Kadipolo, Sudarno mengungkapkan, meski penerapan e-retribusi menggunakan VA sudah 100 persen, tapi belum sepenuhnya berjalan. Pasalnya, komposisi pedagang berusia tua masih 70 persen dibanding pedagang muda 30 persen. Para pedagang yang sudah lansia ini cenderung gagap teknologi (teknologi), sehingga mau tidak mau petugas masih harus turun lapangan. Padahal petugas pemungut retribusi berjumlah hanya dua orang. Sedangkan jumlah pedagang di Pasar Kadipolo mencapai 300 an orang.

“Pembayaran e-retribusi untuk kesadaran pedagang sendiri masih belum maksimal, harus pelan-pelan. Petugas masih harus jemput bola.”

Terpisah, Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Solo, Erni Susiatun mengatakan, digitalisasi pembayaran retribusi mulai diujicobakan pada 2016. Hingga kini, sudah 22 dari 44 pasar tradisional yang menerapkan pembayaran e-retribusi. Ada empat lembaga keuangan yang menjadi mitra yakni BNI, Bank Mandiri, BTN dan Bank Jateng.

“Ada pilihan lebih banyak dalam kemudahan pembayaran e-retribusi pasar, bisa bayar lewat m-banking, ATM, datang ke teller atau lewat agen laku pandai. Untuk model VA baru diterapkan 2021, karena kita harus mengikuti perkembangan teknologi. Hasilnya lebih praktis dan mudah, karena tidak perlu top up kartu. ,” kata Emi.

Menurutnya, sebelum 2016 pengelolaan retribusi pasar masih dilakukan secara manual dengan cara penarikan retribusi langsung oleh petugas kepada pedagang. Pengelolaan retribusi pasar yang masih manual ini jelas tidak efisien. Seperti banyaknya petugas penarik retribusi, waktu yang dibutuhkan dalam proses pemungutan, pelaporan hasil yang lama, serta dibutuhkan biaya pencetakan kartu retribusi pasar untuk pedagang.

Baca Juga: Tunggal Putri Buat Kejutan, Bilqis Prasista Kalahkan Peringkat Satu Dunia

“Apalagi jumlah petugas pemungut retribusi pasar sangat terbatas. Misalnya, Pasar Klewer dengan empat lantai, ada 3.000-an pedagang. Idealnya butuh 10-15 petugas, namun realitanya tidak ada sampai segitu,” ungkapnya.

Selain itu, pemungutan retribusi pasar secara manual sangat dimungkinkan terjadi penyimpangan setoran. Sebagai misal laporan pada 2017, jumlah setoran setelah penerapan e-retribusi berkisar 92 persen dari target atau meningkat dari tahun sebelumnya 85 persen.

Selain itu pihaknya juga bisa menghemat biaya operasional hingga Rp 1 miliar, karena sudah tidak mencetak karcis dan bisa menggeser petugas penarik retribusi ke pos lain. Disisi lain rendahnya tingkat kesadaran pedagang untuk membayar retribusi wajib, mengakibatkan pedagang kurang mandiri dan kurang bertanggungjawab dalam membayar retribusi. Dengan menerapkan e-retribusi, pencapaian target pendapatan dari retribusi pasar menjadi lebih optimal.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X