Digitalisasi, Langkah Seribu Selamatkan Pasar Tradisional (2) : E-Retribusi, Penambal Kebocoran Anggaran  

- Rabu, 11 Mei 2022 | 13:51 WIB
 Ninik (40), pedagang kios kelontong di Pasar Kadipolo, Kota Solo memperlihatkan bukti pembayaran e-retribusi melalui mobile banking (m-banking), akhir Maret lalu. (suaramerdeka.com/Hartatik)
Ninik (40), pedagang kios kelontong di Pasar Kadipolo, Kota Solo memperlihatkan bukti pembayaran e-retribusi melalui mobile banking (m-banking), akhir Maret lalu. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Setelah dilakukan evaluasi, Pemkot Solo menerapkan pembayaran retribusi via tapping kartu hanya selama satu tahun. Selanjutnya, pembayaran e-retribusi diganti dengan model virtual account. Adapun masing-masing pasar memiliki kerja sama dengan lembaga perbankan yang berbeda-beda, sesuai penunjukkan dari Pemkot. Pasar Gede dan Pasar Kadipolo, misalnya, masing-masing bermitra dengan Bank Jateng dan BNI. Lain lagi dengan Pasar Klewer dan Pasar Gilingan yang bermitra dengan BTN. 

Pemimpin Cabang BNI KC Surakarta, Husni Imawan Junaidi mengatakan, kerja sama pembayaran e-retribusi dengan Pemkot sudah berlangsung sejak 2017, sebagai dukungan BNI dalam mewujudkan Kota Solo sebagai smart city.

“Dengan e-retribusi, pembayaran retribusi menjadi lebih efisien, transparan dan akuntabel,” ujar Husni.

Sejauh ini ada lima pasar yang bekerja sama dengan BNI dalam penerapan e-retribusi, yaitu Pasar Sidodadi, Pasar Nongko, Pasar Elpabes, Pasar Kembang, dan Pasar Kadipolo. Menurutnya, e-retribusi sebagai solusi atas hambatan yang sering dihadapi pemerintah daerah seperti proses pemungutan dari pedagang yang lama hingga pengelolaan retribusi pasar yang masih bersifat manual, sehingga menyebabkan minimnya kontrol  sumber-sumber pendapatan asli daerah. Kondisi itu dapat menyebabkan potensi kebocoran dana retribusi yang tinggi.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Syawal 6 Hari Bagi Umat Muslim

Sementara itu, menurut M Zakaria Romadhani, Ketua Tim Pemasaran Bank Jateng Kantor Cabang Koordinator Surakarta, model pembayaran e-retribusi dari masing-masing bank mitra tidak sama. Bank Jateng waktu awal penerapan e-retribusi menggunakan tapping kartu. Namun ternyata terdapat kendala di lapangan, seperti pedagang mengeluh kartu rusak bahkan ada yang hilang. Selain itu perawatan tapping box mahal dan juga tidak mudah.

“Baru enam bulan, pembayaran e-retribusi bermigrasi ke virtual account. Para pedagang sudah punya nomor registrasi kios atau los yang dijadikan sebagai virtual account untuk di-generate seperti QRIS. Mereka tinggal top up saldo kartu,” ujarnya.

Fasilitas yang ditawarkan Bank Jateng sangat memudahkan pedagang yang ingin membayar e-retribusi via VA. Selain ada mobil kas keliling yang terjadwal, ada sejumlah pedagang yang menjadi agen laku pandai. Mereka bisa melayani transaksi top up saldo.

Selanjutnya, petugas pasar akan mendatangi pedagang. Petugas menempelkan kartu pedagang yang sudah top up saldo pada MPos semacam mesin EDC. Seiring berjalannya waktu ternyata metode tersebut masih dinilai memberatkan, lantaran keterbatasan jumlah petugas pasar.

Serba-serbi e-retribusi pasar (Sumber : Diolah dari wawancara berbagai sumber)

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X