Digitalisasi, Langkah Seribu Selamatkan Pasar Tradisional di Era Digital : Piih, Tawar, Scan (1)

- Kamis, 28 April 2022 | 23:38 WIB
TERTEMPEL QRIS: Lapak pedagang di Pasar Gede, Kota Solo sudah tertempel standar kode baca cepat Indonesia (QRIS/Quick Response Code Indonesian Standard) untuk melayani transaksi digital. (suaramerdeka.com/Hartatik)
TERTEMPEL QRIS: Lapak pedagang di Pasar Gede, Kota Solo sudah tertempel standar kode baca cepat Indonesia (QRIS/Quick Response Code Indonesian Standard) untuk melayani transaksi digital. (suaramerdeka.com/Hartatik)

TERIK sinar matahari belum lah terasa pagi itu, ketika pedagang di Pasar Gede Harjonagoro atau lebih dikenal Pasar Gede, Surakarta mulai membuka lapak dagangan. Kesibukan pun kian terlihat di deretan los buah, sayur dan jajanan di lantai dasar. Di lorong kedua sebelah kiri dari arah pintu masuk, terdapat sekitar lima lapak lenjongan yang berjajar di satu deret. Konon, kelima penjual lenjongan itu masih memiliki hubungan keluarga satu sama lain.

Tapi pagi itu, sekira puku 06.00, baru lapak lenjongan Yu Sum yang sudah menggelar lengkap dagangan. Bahkan beberapa orang sudah antre untuk dilayani.  Lenjongan merupakan jajanan pasar khas Solo yang mayoritas terbuat dari umbi-umbian, di antaranya tiwul, ketan ireng, ketan putih, lopis, gethuk, sawut, cenil, dan klepon. Jajanan ini biasanya akan dicampur dengan parutan kelapa muda, kemudian diberi larutan gula jawa kental. Selain itu, ada jajanan unik dan khas yang juga dijual seperti aneka jenang (bubur), jadah blondo, brontol dan brambang asem.

Di kalangan pecinta kuliner, lenjongan bikinan Suminem (60) atau akrab disapa Yu Sum tentu sudah tidak asing. Selain wara-wiri di media tanah air, lenjongan racikan wanita paruh baya itu pernah dicicipi artis Luna Maya dan menjadi lokasi syuting “Bikin Laper”.  Satu porsi lenjongan berisi cenil, klepon, ketan, gendar lengkap dengan parutan kelapa dan gula merah dihargai Rp 5.000.

Dalam sehari, Yu Sum mengaku bisa menjual sekitar 250 porsi atau jika dikalkulsi omzet hariannya berkisar Rp 1,25 juta. Meski sudah 40 tahun menjajakan makanan jadul, tapi Yu Sum tetap mengikuti perkembangan zaman. Itu terlihat dari model transaksi bayar nontunai atau scan standar kode baca cepat Indonesia (QRIS/Quick Response Code Indonesian Standard) yang tertempel di kaca etalase dagangan. Jika tidak bawa uang, konsumen cukup memindai kode QRIS dengan aplikasi di ponsel. Seketika sejumlah uang yang harus dibayar langsung masuk ke rekening Yu Sum.

“Ada QRIS, ada juga OVO. Silakan tinggal piih mau bayar pakai mana,” kata, Jumiyati (40), putri Yu Sum saat ditemui di Pasar Gede, akhir Maret lalu.

Pasar Gede menjadi satu dari belasan pasar percontohan untuk transaksi nontunai oleh Pemkot Solo. Sebagian besar pedagang di lantai dasar memiliki kode QRIS sesuai dengan nomor registrasi kios dan los. Meski lapak lenjongan yang telah diwariskan turun temurun dari sang nenek itu menjual jajanan tempo dulu, tapi Jumiyati justru mendorong ibunya, Yu Sum agar tidak menolak ketika ditawari menjadi salah satu merchant pembayaran digital (e-payment). Tawaran itu datang dari lurah Pasar Gede, setahun lalu.

PEMBAYARAN DIGITAL: Salah seorang pembeli lenjongan Yu Sum mencoba pembayaran digital dengan scan QRIS di Pasar Gede, Kota Solo.(suaramerdeka.com/Hartatik)

Kendati pembayaran tunai dari pembeli tidak dipungkiri masih jauh lebih besar, tapi Jumiyati justru memiliki pemikiran cemerlang terkait model bayar lewat scan kode QR. Uang hasil transaksi nontunai itu justru diendapkan dalam rekening QRIS-BCA. Bahkan ia dan ibunya baru mencairkan rekening tersebut setelah mengendap selama setahun.

“Saya baru cairkan (saldo QRIS) akhir tahun kemarin, lumayan besar ada sekitar Rp 100 juta. Itung-itung itu labanya yang ditabung. Yang buat mutar modal ya yang bayar tunai,” imbuh Jumiyati tersenyum sumringah.

Menurut Jumiyati, metode pembayaran digital itu memudahkan konsumen yang ingin memesan lenjongan dalam porsi besar. Pasalnya, sebagian besar pelanggan adalah perkantoran baik itu lembaga pemerintahan, perbankan, rumah sakit maupun pertokoan untuk acara syukuran peresmian kantor atau gerai.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belajar dari Kesuksesan IKEA di Indonesia

Kamis, 26 Mei 2022 | 14:38 WIB
X