Pembiayaan UMi Topang Usaha Ultra Mikro yang Terdampak Pandemi

- Senin, 31 Januari 2022 | 16:22 WIB
MENYIAPKAN: Djuwairijah (50), debitur pembiayaan UMi tengah menyiapkan mi goreng pesanan tetangga dan pembeli lainnya di depan rumahnya, di RT 03/ RW 09 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com/Isnawati)
MENYIAPKAN: Djuwairijah (50), debitur pembiayaan UMi tengah menyiapkan mi goreng pesanan tetangga dan pembeli lainnya di depan rumahnya, di RT 03/ RW 09 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com/Isnawati)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Djuwairijah (50) menata sembako di dalam lemari di beranda rumahnya yang sebagian lantainya masih digenangi air akibat banjir, Sabtu (22/1). Di beranda rumah di RT 03/ RW 09 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan itu, Djuwairijah membuka toko kecil.

Di sudut beranda, tampak berjajar toples-toples berisi ikan hias. Sementara di depan rumahnya, terdapat lemari kaca tempat berjualan makanan. Usai menata sembako, ia  bergegas ke dapur untuk menyiapkan pesanan snack. Sementara suaminya, Windihartoto (50) tengah menemani anak ketiganya yang berusia 1,7 tahun bermain di ruang tengah.

“Saya ada pesanan snack untuk arisan. Alhamdulillah, setelah berhenti total selama hampir dua tahun karena pandemi, pesanan snack sudah mulai ramai lagi,” kata Djuwairijah.

Baca Juga: Ramalan Primbon Jawa, 5 Weton Ini Rezekinya Melesat Tak Habis Sampai Akhir Tahun 2022

Selama 17 tahun, Djuwairijah membuka usaha katering dengan nama “Dj Food” dan berjualan makanan setiap pagi. Sebelum pandemi Covid-19 Maret 2020, Djuwairijah hampir setiap hari menerima pesanan snack untuk arisan atapun acara lainnya. Ia juga sering mendapat pesanan katering untuk hajatan pernikahan ataupun khitanan. Untuk satu kali pesanan katering, ia menerima Rp 400.000.

Namun selama pandemi Covid-19, usaha kateringnya berhenti total, begitu juga pesanan snack. Karena selama pandemi ada  larangan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan, seperti arisan, khitanan maupun pernikahan. Sehingga Djuwairijah kehilangan sumber pendapatan keluarganya.

April 2020, suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena tempat kerjanya terdampak pandemi. Keluarganya kehilangan dua sumber pendapatan yang menopang ekonomi keluarganya. Sehingga Djuwairiyah harus mencari sumber pendapatan alternatif untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan tiga anak.

Baca Juga: Playlist Lagu Imlek Ini Direkomendasikan Meriahkan Perayaan Tahun Baru Imlek

Dari berjualan makanan setiap pagi, rata-rata Djuwairijah mendapatkan penghasilan Rp 100.000. Penghasilan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari. Sementara, selama pandemi kebutuhan meningkat untuk membeli masker, hand sanitizer atau sabun cuci tangan dan lainnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dekopin Konsisten Beri Pendampingan UMKM dan Koperasi

Sabtu, 19 November 2022 | 15:05 WIB

KADIN Binus Luncurkan Program Pendampingan UMKM

Sabtu, 12 November 2022 | 06:15 WIB
X