Harga Komoditas Pangan Masih Tinggi di Akhir Tahun, Berkontribusi pada Inflasi

- Rabu, 15 Desember 2021 | 10:00 WIB
Wamendag saat melihat kondisi pasar  (Foto: Humas Kemendag)
Wamendag saat melihat kondisi pasar (Foto: Humas Kemendag)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Tingginya harga beberapa komoditas pangan masih berlanjut hingga akhir 2021 dan berkontribusi pada angka inflasi.

Salah satu yang mendasari kenaikan harga pangan ini adalah momen Natal dan libur akhir tahun di mana peningkatan permintaan lebih tinggi dari biasanya.

“Perubahan cuaca juga berdampak pada musim tanam di mana petani beberapa komoditas mempercepat musim tanamnya dan hal ini berdampak pada terbatasnya hasil panen. Keterbatasan ini menyebabkan harga pangan naik karena tidak sesuai dengan banyaknya permintaan,” terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan.

Di November, komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi adalah kenaikan harga telur dan cabai merah yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,06 persen.

Baca Juga: Dekan FT USM Raih Doktor, Teliti Perilaku Beton Berserat Baja Pascabakar

Data Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks Bu RT) CIPS mencatat kenaikan harga telur cukup signifikan, yaitu sebesar 19 persen pada dari Rp 23.544/kg menjadi Rp 28.086/kg pada November 2021.

Harga telur yang mulai naik ini mengalami rebound atau kembali normal dari sebelumnya yang sempat anjlok akibat melimpahnya stok di pasar.

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi kegiatan operasional restoran, hotel dan pusat perbelanjaan menyikapi kenaikan jumlah kasus Covid-19 di bulan Juli lalu juga memengaruhi daya beli masyarakat, terutama yang mata pencahariannya terdampak pandemi.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut harga telur akan kembali normal setelah turun harga dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: PLN Sediakan Layanan Premium untuk Industri dengan Pasokan Listrik Berkualitas

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X