Anggaran Pupuk Subsidi Tak Sebanding dengan Capaian Produktivitas, Penyediaan Layak Dievaluasi

- Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:00 WIB
Stok pupuk di Jateng. (foto: PT Pupuk Indonesia)
Stok pupuk di Jateng. (foto: PT Pupuk Indonesia)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Anggaran tahunan subsidi pupuk sebesar Rp 20-30 triliun ternyata tidak sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan.

Untuk itu proses penyediaan pupuk bersubsidi sebagai salah satu input pertanian layak dievaluasi.

“Data menunjukkan tidak sebandingnya pengeluaran untuk anggaran dengan hasil yang dicapai. Dibutuhkan evaluasi supaya anggaran sebesar ini dapat mencapai peningkatan produktivitas,” jelas Peneliti CIPS Aditya Alta.

Data USDA misalnya, memperlihatkan bahwa produksi tanaman pangan padi dan jagung selama lima tahun terakhir cenderung menurun, dari 47,8 juta ton pada tahun 2016 menjadi 47 juta ton saja pada 2020, atau menyusut 1,59 persen.

Baca Juga: Keluarga Berperan Penting Memutus Penularan Covid-19, Perlu Upaya Pendampingan

Input pertanian seperti pupuk, benih, irigasi, dan pestisida sangat penting untuk mendongkrak produktivitas.

Namun mekanismenya harus langsung menyasar petani dan diarahkan untuk mengubah persepsi mengenai biaya dan manfaat penggunaan input.

Optimalisasi subsidi input pertanian sendiri dapat dicapai dengan beberapa cara, termasuk dengan mengganti subsidi pupuk dengan pembayaran langsung berupa saldo kepada petani untuk memangkas middlemen dan memastikan bantuan tepat sasaran.

Walaupun usulan Ombudsman untuk membatasi bantuan kepada petani tanaman pangan dan hortikultura dengan luas lahan maksimal 0,1 hektare bisa dipahami, demi memastikan penerima memang membutuhkan bantuan pembiayaan input.

Baca Juga: Harga Minyak Berakhir Beragam Seiring Kekhawatiran Meningkatnya Kasus Covid-19

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X