Industri Makanan dan Minuman Perlu Dukungan Lewat Pengurangan Hambatan Non-Tarif

- Kamis, 2 Desember 2021 | 08:00 WIB
Industri makanan. (suaramerdeka.com / dok)
Industri makanan. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Hambatan non-tarif (non-tariff measures /NTM) melemahkan daya saing industri pengolahan makanan dan minuman Indonesia karena menimbulkan berbagai biaya tambahan serta menyebabkan waktu yang lebih lama untuk menjalankan proses yang ada.

“Hambatan non-tarif  (NTM) untuk produk makanan dan minuman diperkirakan setara dengan tarif sebesar 49 persen."

"Dalam survey International Trade Centre, importir juga mengeluhkan maraknya pungutan liar dalam prosedur impor akibat adanya macam-macam hambatan non-tarif,” terang Kepala Penelitian center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta.

NTM mensyaratkan dipenuhinya berbagai ketentuan seperti mengenai label, pengemasan, atau sertifikasi dan juga inspeksi pra-pengiriman di pelabuhan asal yang memakan banyak waktu hingga memunculkan keterlambatan impor.

Baca Juga: Bupati Demak Main Ketoprak Wayang Sembari Sosialisasikan DBHCHT

Dwelling time atau masa penimbunan peti kemas di pelabuhan Indonesia yang sekitar lima hari, jauh di atas 1,5 hari di Singapura dan dua hari di Malaysia.

Ketika sedang ramai, proses administrasi, pengecekan, dan pengeluaran barang bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Keterlambatan waktu ini memakan biaya, dan ini merugikan importir serta industri.

Dampak hambatan non-tarif lainnya seperti sistem kuota yang diputuskan melalui rekomendasi Kementerian Perindustrian dan izin Kementerian Perdagangan, adalah terbatasnya akses kepada bahan baku dari pasar global.

Baca Juga: Indonesia Dukung Komitmen Dunia Maksimalkan Energi Ramah Lingkungan

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X