Petani Kopi Butuh Fasilitasi Pembiayaan

- Kamis, 10 Juni 2021 | 16:45 WIB
Klaster Kopi Wonosobo menggelar sarasehan di area kebun LMDH Argo Mulyo, Bukit Setalang, Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Kamis (10/6). SM/Dok
Klaster Kopi Wonosobo menggelar sarasehan di area kebun LMDH Argo Mulyo, Bukit Setalang, Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Kamis (10/6). SM/Dok

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Para pelaku dan pegiat usaha kopi yang tergabung dalam Klaster Kopi Wonosobo menggelar sarasehan, sekaligus panen perdana atau wiwitan petik merah di area kebun LMDH Argo Mulyo, Bukit Setalang, Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Kamis (10/6).

Ketua Klaster Kopi Wonosobo, Muhail Effendi mengatakan, petani butuh fasilitas pembiayaan dari perbankan untuk keterbatasan modal yang dimiliki.

Dalam sarasehan yang juga dihadiri Bupati Afif Nurhidayat, Wakil Bupati Muhamad Albar dan sejumlah pejabat forkompimda tersebut, Muhail mengungkapkan adanya kesediaan dari salah satu Bank BUMN untuk menyediakan skema pembiayaan bagi para pelaku usaha kopi.

Baca Juga: Berjaya di 2024, PDI Perjuangan Jadikan Desa Basis Perjuangan Makin Dekat dengan Rakyat

Hal itu menjadi penyemangat agar kedepan industri bahan baku minuman paling populer di dunia itu akan semakin menggeliat.

“Memang untuk para pelaku usaha kopi, kendala utama adalah pada kurangnya kemampuan pengembangan lahan karena keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga adanya komitmen dari pihak bank ini jelas akan sangat membantu kami,” terang Muhail saat ditemui di sela sarasehan yang digelar di Coffee Tambi.

Klaster kopi, disebutnya tengah berupaya membantu pemerintah untuk meningkatkan produktifitas kopi yang memiliki kualitas sesuai kebutuhan pasar, khususnya untuk pasar ekspor.

Baca Juga: Vaksinasi Massal di Bandung Sedot Atensi, Warga Berkerumun

“Secara nyata, klaster kopi juga melakukan pendampingan kepada petani kopi supaya tanaman kopinya dirawat dengan benar sehingga menghasilkan buah yang bagus, sampai pada pemetikan buahnya juga memenuhi kriteria, yaitu setelah merah matang kemudian diproses melalui berbagai tahapan seperti sortasi warna buah, perimbangan hingga pada penjemuran dan pengupasan,” terangnya.

Tak hanya sampai disitu, pihaknya juga mendampingi pada tahap sortasi biji kering atau green beans, sehingga menghasilkan kopi standar yang dikehendaki pasar internasional.

Harga kopi asal Indonesia diakui Muhail cukup tinggi di pasar dunia, sehingga amat sayang apabila Wonosobo tidak mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Baca Juga: Pemerintah Siap Bantu Fasilitasi Isolasi Mandiri daerah

“Di ibukota pun nama kopi asal Wonosobo tidak kalah dengan produk kopi dari berbagai daerah lain di Indonesia,” lanjutnya.

Menanggapi adanya inisiatif dari Klaster Kopi Wonosobo, Bupati Afif Nurhidayat memberikan apresiasi. Menurut Afif, inisiatif tersebut sangat bagus, mengingat para petani akan diajak untuk mengolah hasil pertanian secara benar sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan bersama.

“Karena disini petani tidak hanya mengolah tanaman kopi sampai panen akan tetapi bahkan sampai pada tahapan kopi siap untuk disedu di depan konsumen,” tutur Bupati.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Kelompok UKM di Sleman Didorong Bentuk Koperasi

Selasa, 26 Oktober 2021 | 15:01 WIB

Hendi Dukung UMKM Naik Kelas Lewat Desain Kemasan

Senin, 25 Oktober 2021 | 17:47 WIB

UMKM Perlu Mulai Berani Melibatkan Investor

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:34 WIB
X