Pengelolaan FLW Dukung Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Rendah Karbon

- Kamis, 10 Juni 2021 | 15:39 WIB
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. SM/Dok
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. SM/Dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kementerian PPN/Bappenas bersama Waste4Change dan didukung oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia serta United Kingdom Foreign, Commonwealth, and Development Office (UKFCDO) meluncurkan hasil kajian Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia secara daring dalam Webinar Strategi Pengelolaan FLW untuk Mendukung Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Rendah Karbon, Rabu (9/6) secara daring.

"Permintaan kebutuhan pangan yang tinggi, namun dengan ketersediaan pangan yang terbatas akibat pembatasan mobilisasi selama pandemi Covid-19, menunjukkan kepada kita bahwa diperlukan lompatan besar terhadap pola ketersediaan pangan di Indonesia. Untuk itu, identifikasi food loss & waste yang ada di Indonesia menjadi penting agar kita dapat merencanakan serta mengembangkan upaya-upaya untuk memperkecil gap tersebut," ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Hasil kajian menunjukkan timbulan FLW menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp 213-551 triliun/tahun atau setara dengan 4-5 persen PDB Indonesia per tahun.

Baca Juga: Canggih, Drone Bawah Air Milik Ditpolairud Polda DIY Siap Jaga Perairan Jogja

Di sektor lingkungan, pada periode 2000-2019 atau selama 20 tahun lamanya, timbulan FLW di Indonesia mencapai 23-48 juta ton/tahun atau setara dengan 115-184 kg/kapita/tahun.

Dalam periode yang sama, timbulan ini juga menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen atau setara dengan 7,29 persen rata-rata emisi GRK Indonesia per tahun.

Dari kacamata sosial, kehilangan kandungan energi yang hilang akibat FLW diperkirakan setara dengan porsi makan 61 juta-125 juta orang per tahun.

Data juga menunjukkan bahwa timbulan FLW didominasi oleh jenis padi-padian yakni beras, jagung, gandum, dan produk terkait, sementara jenis pangan yang prosesnya paling tidak efisien adalah sayur-sayuran, di mana kehilangannya mencapai 62,8 persen dari seluruh suplai domestik sayur-sayuran yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Vaksinasi 1 Juta Per Hari Juli Mendatang, Luhut Minta Contoh Kedisiplinan China

"Dengan menyajikan sejumlah hasil analisis yang bersifat evidence-based, Kajian Food Loss and Waste di Indonesia ini menjadi pedoman dan referensi bagi para pengambil kebijakan sehingga implementasi pembangunan rendah karbon di Indonesia dapat memenuhi target yang telah ditetapkan," ujar Menteri Suharso.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Sumber: Bapennas

Terkini

Calon Barista Muda Antusias Belajar Bisnis Kopi

Sabtu, 12 Juni 2021 | 12:48 WIB

Transaksi ETF April 2021 Capai 197 Persen

Sabtu, 12 Juni 2021 | 07:12 WIB
X